Bisakah sebuah kebenaran dicapai
tanpa bimbingan wahyu? Bisa jadi bisa. Bagi para pengagum akal, aktivitas
filsafat, berpikir, dan bukti-bukti empiris merupakan sarana mencapai
kebenaran. Bukankah itu pula yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam?
Benarkah Nabi Ibrahim Mengajarkan Tiga Agama Samawi?
Ada salah kaprah di tengah
masyarakat mengenai konsep agama samawi (wahyu). Agama Yahudi, Nasrani, dan
Islam dianggap sejajar karena ketiganya merupakan agama-agama yang memperoleh
kitab dari Tuhan. Selain itu, ketiganya berasal dari sumber yang satu, yakni
Nabi Ibrahim as.
Konsep Wahyu dalam Worldview Islam
Berbicara
mengenai Worldview of Islam, sebetulnya mau tak mau kita akan
membicarakan worldview dari peradaban lain dan membandingkannya dengan worldview
yang dimiliki Islam. Sebab penyebutan Worldview of Islam
(pandangan hidup Islam) sendiri berfungsi untuk mengkhususkan bahwa pandangan
ini adalah milik Islam. Menjadi ciri khas agama ini dan tidak dimiliki oleh worldview
lain.
Salah
satu hal yang membedakan tersebut adalah mengenai konsep wahyu.
“Banyak
lapisan makna di dalam worldview,” tulis Hamid Fahmi Zarkasyi. “Membahas
worldview bagaikan berlayar ke lautan tak bertepi (journey into
landless-sea), kata Nietszche. Meskipun begitu, di Barat masalah worldview
tetap hanya sejauh jangkauan panca indera.”[1]
Oleh
sebab itu, di Barat orang-orang membahas worldview hanya berdasarkan
pendekatan kultural dan saintifik. Bukti-bukti nyata mengenai sesuatu harus
dibuktikan secara empiris atau melalui pengalaman langsung. Definisi ilmiah
bagi mereka ialah apabila sesuatu itu dapat dilihat, didengar, dan diraba.
Sehingga
untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak mampu dicapai indera, mereka
hanya mampu berspekulasi.
Sementara
itu bagi setiap Muslim, wahyu adalah bagian dari apa yang orang Barat sebut
sebagai sesuatu yang “ilmiah.” Islam memiliki konsep khabar shadiq
(kabar yang benar). Khabar shadiq ini datang dari dua wahyu Allah;
Al-Quran dan Sunnah Nabi yang mutawattir. Sebagaimana kata Hamid Fahmi
Zarkasyi, “Dalam Islam, sejauh apa pun pikiran kita berpetualang, wahyu akan
tetap menjadi obornya.”[2]
Dengan demikian, demi menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai konsep Tuhan, agama, manusia,
surga-neraka, hari akhir, dan sebagainya, setiap Muslim tidak perlu
berspekulasi. Dan memang dilarang berspekulasi. Sebab semuanya telah dijelaskan
di dalam Al-Quran dan Sunnah. Seorang Muslim hanya perlu menggalinya dengan
metodologi yang tepat.
Masalahnya,
selain menolak wahyu, mereka juga mengidap apa yang Syamsuddin Arif sebut
dengan “Kanker Epistemologis.”[3]
Gejala-gejala
yang ditimbulkannya cukup jelas. Pertama, mereka bersikap skeptis
terhadap segala hal. Ia senantiasa meragukan kebenaran dan membenarkan
keraguan. Meskipun hal tersebut merupakan hal yang qath’i bagi seorang
Muslim dan telah dijelaskan melalui wahyu. Perkara-perkara tersebut masih bebas
untuk diperdebatkan.
Kedua,
berpaham
relativistik. Sehingga jika seorang Muslim menjunjung tinggi wahyu, ia tidak
boleh menganggap hal tersebut sebagai hal yang paling benar. Seorang relativis
berpikir untuk menerima dan menganggap semuanya benar.
Ketiga,
mengalami kekacauan ilmu. Ia tidak mampu lagi membedakan mana yang benar dan
yang salah. Sehingga konsekuensinya sesuatu yang salah bisa dianggap sebagai
kebenaran, begitu pun sebaliknya.
Selain itu, anggaplah mereka yang
pikirannya belum terwarnai dengan Worldview of Islam menerima Al-Quran,
tetapi ketika menggali sesuatu darinya, mereka tetap saja menafikan konsep
wahyu.
“Level berikutnya adalah Al-Quran
sebagai data sejarah, yakni sebagai teks yang secara historis berada di
tengah-tengah umat Islam. Ia menjadi sumber, fondasi, dan ilham bagi norman dan
aturan-aturan yang mengatur kehidupan umat Islam. Pada level inilah, Al-Quran
bisa diinterogasi secara ilmiah, dianalisa, diinterpretasikan, dan seterusnya,”
tutur Ulil Abshar Abdalla.[4]
Bagi Ulil, Al-Quran sebagai wahyu
dan data sejarah harus dipisahkan. Pengkajian ilmiah atas Al-Quran bersifat
relatif, karena mengandalkan asumsi, sehingga bersifat kondisional dan
provisional. Dari sini, maka tidak heran muncullah Tafsir Hermeneutika.
Mengganggap Al-Quran sebagai kitab biasa, sehingga bisa ditafsirkan sebebasnya.
Memang benar bahwa tafsir itu
bersifat relatif. Para mufassir terdahulu hingga yang kontemporer tidak
pernah ada yang mengklaim bahwa tafsirnya adalah tafsir yang paling benar.
Paling sesuai dengan maksud Allah Swt.
Tetapi ketika menafsirkan Al-Quran,
mereka menggunakan metodologi yang sesuai prosedur dan memenuhi segala
persyaratannya. Syaikh Manna Al-Qathan menjelaskan setidaknya ada 9 syarat bagi
mufassir untuk menafsirkan Al-Quran.[5]
- Akidah yang benar. Maka mereka yang tidak mempercayai Tuhan, menganggap Tuhan itu lebih dari satu, mengatakan bahwa ada nabi setelah Rasulullah Saw., tidaklah memenuhi persyaratan.
- Bersih
dari hawa nafsu, sehingga tidak ada keinginan untuk membela kepentingan
kelompoknya sendiri apalagi kepentingan orang-orang yang membayarnya.
- Lebih
dahulu menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran.
- Mencari
penafsiran dari Sunnah.
- Melihat
pendapat para shahabat mengenai ayat yang dimaksud.
- Merujuk
kepada pendapat para tabi’in.
- Memiliki
kemampuan bahasa Arab yang baik. Bukan hanya pandai berbicara, tetapi juga
menguasai ilmu nahwu, sharaf, balaghah, dan sebagainya.
- Memiliki
pengetahuan mengenai Al-Quran. Di antaranya adalah ilmu qira’at, ushul
at-tafsir, asbab an-nuzul, nasikh-mansukh, dan lain-lain.
- Pemahaman yang cermat untuk menyimpulkan makna dari ayat-ayat tersebut.
Tidak hanya sampai situ, seorang mufassir juga mesti memiliki adab yang baik. Niatnya lurus karena Allah, berakhlak mulia, mengamalkan ilmunya, jujur dalam penilainnya, serta siap mengikuti metodologi yang telah ditetapkan di atas.
Data
sejarah—seperti asbab an-nuzul—perlu dipisahkan dalam arti bahwa fakta
sejarah tidak menjadi penilaian utama dalam mengambil kesimpulan hukum. Data
tersebut hanya membantu untuk memahami ayat-ayat Allah. Dalam hal ini berlaku
kaidah, “Yang dianggap adalah lafazh yang umum, bukan sebab yang khusus.”[6]
Misal,
firman Allah berikut, “Kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa itu dari
neraka, yang menafkahkan hartanya di jalan Allah untuk membersihkannya, padahal
tidak ada seorang pun memberikan nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi
ia memberikan semua itu semua semata-mata karena mencari keridhaan Allah,
Tuhannya Yang Mahatinggi. Dan kelak ia benar-benar mendapatkan kepuasan.” (Qs.
Al-Lail: 17-21)
Ayat
ini turun berkenaan dengan Abu Bakar. Tetapi apakah hanya Abu Bakar ra. yang
bisa memperoleh keutamaan demikian. Jumhur ulama—dan ini merupakan pendapat
terkuat—berkata bahwa yang menjadi pegangan adalah lafazh yang umum. Sehingga
jika umat Islam lain melakukan hal dikerjakan Abu Bakar, ia bisa mendapatkan
keutamaan serupa. Berupa ”Dan kelak ia benar-benar mendapatkan kepuasan.”
Begitulah
Worldview of Islam membimbing manusia menuju jalannya yang tepat. Banyak
hal yang tidak diketahui manusia. Dan wahyu turun sebagai petunjuk serta
menjawab persoalan-persoalan tersebut. Tak hanya itu, wahyu pun mengarahkan
manusia agar akalnya mampu berpikir lurus sesuai jalan Tuhannya. Inilah poin
utama yang tidak dimiliki oleh worldview peradaban lain.
Allahu
a’lam. []
[1]
Hamid Fahmi Zarkasyi, Misykat, Refleksi Tentang Westernisasi, Liberalisasi,
dan Islam, (Jakarta: INSISTS, 2012), hlm. 242
[2]
Ibid, hlm. 244
[3]
Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, (Jakarta: Gema
Insani Press, 2008), hlm. 140-142
[4]
Ulil Abshar Abdalla, Alquran Sebagai Wahyu dan Fakta Sejarah, http://islamlib.com/kajian/quran/alquran-sebagai-wahyu-dan-data-sejarah/,
diakses pada tanggal 22 Maret 2016 pukul 14.00 WIB
[5]
Manna Al-Qathan, Pengantar Studi Ilmu Al-Quran, (Jakarta: Pustaka
Al-Kautsar, 2010), hlm. 414-418
[6]
Ibid, hlm. 102-104
Indahnya Berbenah Biar Tambah Berkah
Bersiaplah Menyambutnya
Memang
tidak ada orang yang dapat mengingkari fakta ini. Tamu tak diundang itu sering
menyelinap ke dalam hati tiap insan, laki-laki dan perempuan, tak peduli status
sosial, jabatan, pekerjaan, pendidikan, suku, warna kulit, atau
kewarganegaraan. Cinta, nama yang kita pakai untuk menggambarkan perasaan
tersebut rasanya memang masih belum bisa kita sepakati definisinya. Tapi, itu
tidaklah penting. Kita hanya perlu memahami cara kerjanya ketika mengubah dan
memberikan suasana kehidupan yang baru bagi tiap jiwa yang merasakannya.
“Tak ada sesuatu yang dapat
menggerakkan kekuatan besar, menyalurkan keberkahan, memahatkan huruf-huruf dan
guratan emas di atas halaman sejarah, serta menyelamatkan begitu banyak orang
dari kesesatan, kelemahan dan kemiskinan, sekuat cinta.” Tulis Asy-Syaikhut
Tarbiyah Ust. Rahmat Abdullah dalam sebuah artikel pendeknya menggambarkan
energi cinta.
Tersebab cinta pula, pertanyaan
Anas ibn Malik seputar kiamat dijawab dengan indah oleh Rasulullah, “Engkau
akan bersama dengan yang engkau cintai.”
Uniknya,
energi cinta yang melahirkan sakinah (ketenangan) dan kelembutan kerap tidak diketahui cara kerjanya
oleh kita. Cinta semacam apa yang membuat Rasulullah mengucapkan ummatii..
sebanyak 3 kali di penghujung hayatnya? Cinta seperti apa yang membuat ‘Umar
semula mengatakan, “Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai
daripada segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri”, menjadi “Sesungguhnya
mulai saat ini, demi Allah, engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.”?
Hanya dalam hitungan detik.
Ketidaktahuan
kita pada cara kerja cinta ini lalu berimbas ketika kita (pada masa-masa
tertentu) dihadapkan pada realita cinta yang lain; terhadap lawan jenis. Bahkan
justru ketika kekanakan kita sedang memuncak dan kedewasaan kita tengah menjanin.
Dua keadaan yang membuat diri menjadi sangat mudah tidak stabil.
Di
situlah letak ujiannya datang. Perlahan setan menghinggapi. Membisikkan ke
dalam hati manusia hal-hal yang membuat cinta kehilangan kesucian maknanya.
Berhati-hatilah ketika nafsu itu datang, mendominasi akal pikiran atas nama
cinta.
Ianya
malah melemahkan, menggelisahkan, bahkan menjatuhkan ke dalam lubang dosa
menghinakan. Kata-kata, “Aku mencintaimu!”, menjadi lebih terdengar seperti,
“Aku ingin berzina denganmu.”
“Dan janganlah kamu
mendekati zina. Sesungguhnya zina adalah perbuatan keji. Dan suatu jalan yang
buruk.” (Al-Isra’: 32)
Kita
sedang tidak berbicara zina “masuknya benang ke dalam lubang jarum”. Itu zina “kuno”.
Zina “modern” kini lebih halus dengan memilih nama pacaran dan beberapa istilah
lain dengan embel-embel “asal tahu batasannya.” Kawan, ketahuilah, “Tercatat atas anak Adam nasibnya dari perzinaan dan dia pasti
mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua teling zinanya mendengar, lidah
zinanya bicara, tangan zinanya memaksa (memegang dengan keras), kaki zinanya
melangkah (berjalan) dan hati yang berhasrat dan berharap (berangan-angan).
Semua itu dibenarkan (direalisasikan) oleh kelamin atau digagalkannya.” (HR.
Bukhari).
Cintanya, Bukan Nafsunya
“Allah,
Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu)
sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah
kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya
dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (Ar-Ruum: 54)
Kata “remaja”
dan kata “pemuda” sering diidentikkan dengan suatu gerakan perubahan, barisan
pembangun peradaban, atau penentu masa depan sebuah bangsa. Maka sungguh tak
seharusnya cinta yang menjadi fitrah tiap insan didominasi oleh nafsu dan godaan
syahwat.
Jika cinta telah
menyentuh dinding jiwa, jagalah dan hindarkanlah ia menjelma menjadi air keruh
yang menyamarkan kebenaran. Lalu jalan tak halal ditempuh. Berpacaran maupun
istilah-istilah lainnya. Setan telah cukup lihai mengelabui pikiran anak-cucu
Adam. Hinggalah pacaran itu disebut langkah penjajakan dan saling memahami.
“Padahal..” kata Anis Matta dalam sebuah ceramahnya, “…bukan itu yang terjadi!
Kenyataannya ialah mereka berusaha tampil lebih baik dari yang sebenarnya.
Mereka sedang membuat iklan untuk menggoda pembeli. Karena takut bila pelanggan tidak puas, akhirnya ia akan
ditinggalkan.”
Mari bersabar
dalam sedikit kerinduan, menantikan kenikmatan berbuka dari “puasa” panjang
hati. Kita isi waktu “berpuasa” ini dengan aktivitas bernilai surgawi. Teringat
sebaris kalimat dari Asy-Syafi’i, “Jika tak dengan kebenaran, kau ‘kan
disibukkan dengan keburukan.”
Yuk, dalam
sedikit penantian ini. Daripada sibuk memanjang angan dan mimpi, lebih baik
sibuk memperbaiki diri.
Maka Habislah Cintanya
Saya
tidak dapat menjamin cerita ini benar sepenuhnya, tapi memang Qais terlanjur
menyejarah dengan cerita cintanya yang tragis. Konon, Romeo-Juliet dari Shakespeare
pun terinspirasi dari cerita ini. Selanjutnya syair-syair cinta antara Qais dan
kekasih hatinya yang dikumpulkan oleh seorang sufi bernama Nizami ini lebih
kita kenal dengan “Layla Majnun”.
Qais
yang dikenal tampan dan kaya raya seketika jatuh cinta dengan seorang wanita
cantik yang ia pun mencintai Qais. Ya, dialah Layla. Lihatlah untaian syair
Qais yang menggambarkan kecantikan Layla.
Layla telah menyihirkuDengan kedua matanya yang hitam,Ia mempesonaku dengan jenjang lehernya,Dengan rambut, dengan wajah elok berseri.…Dan kening, dan alis tak terjamah irisan garis.Seperti lengkung huruf nun.
Namun,
cinta kedua hati tidak mempertemukan kedua jiwa. Qais pergi berniaga ke negeri
lain bersama ayahnya; Al-Mulawwah. Ke Damsyik, Hims, Halab, Kufah, hingga
Basrah. Sementara Qais pergi, seorang saudagar kaya dari Irak; Sa’ad ibn Munif
melamar Layla dengan tawaran mahar 1000 dinar. Al-Mahdi, ayah Layla, menerima
pinangan tersebut tanpa dapat Layla tolak.
Sebelum
pernikahan dilangsungkan, Qais yang tubuhnya semakin kurus kembali ke kota
asalnya. Mendengar Layla telah telah dipinang, melalui ayahnya, Qais menawarkan
100 unta sebagai mahar pengganti 1000 dinar yang diberikan Sa’ad ibn Munif. Namun
Al-Mahdi menolaknya, dan pernikahan Layla dengan Sa’ad tetap dilangsungkan.
Hancur
hati Qais. Sejak saat itu ia tidak mau berbicara dengan siapa pun dan sering
kali berbicara dengan diri sendiri. Sementara Layla, pernikahan tinggallah
pernikahan, namun cintanya tetap jatuh pada Qais. Layla tak kuat menanggung
penderitaannya, ia jatuh sakit. Di tengah sakitnya, nama Qais sering disebut di
setiap panggilannya. Akhirnya Qais dipanggil untuk menemui Layla. Dalam pesan
terakhirnya Layla menyatakan bahwa mereka akan bertemu di akhirat nanti sebagai
sepasang kekasih.
Layla
pun meninggal. Tak kuat melihat kekasihnya meninggal, Qais serasa putus asa.
Kesehariannya diisi dengan duduk di samping makam Layla, hingga Qais pun meninggal
juga. Jasad Qais dikuburkan di samping makam Layla.
Cinta Kita Beda Lagi!
Lupakan!
Lupakan cinta yang tak mentautkan kedua jiwa di atas pelaminan. Karena itu
hanya akan membawa penderitaan batin. Cinta Qais dan Layla memang terasa indah
sebab kesetiaan yang terpampang, tapi cobalah merasakan diri menjadi salah satu
di antara keduanya. Lagipula jauh lebih nikmat kisah pertama. Tercebur dalam
hina. Lalu taubat tuk menghapus dosa. Justru Allah hadiahkan karunia tiada
tara. Allahu akbar!
Maka
mempersiapkan dan memperbaiki diri adalah cara kerja cinta kita. Maka memulai
memantaskan diri adalah cara kerja cinta kita. Maka belajar, belajar, dan
belajar adalah cara kerja cinta kita.
…dan Kita Pun Saling
Berbenah Diri
Ya,
s-a-l-i-n-g. Jujur saja sebagai lelaki, saya—dan lelaki umumnya—menginginkan muslimah yang telah
siap dan matang secara emosional, keilmuan, dan hal-hal lain yang terkadang
bersifat subjektif. Bagi lelaki, menikah adalah sebuah tanggung jawab. Salah
satunya tanggung jawab menafkahi, maka terkadang di antara para lelaki itu
mencari muslimah yang siap diperistri oleh lelaki yang punya gaji tak seberapa.
Sebagian
besar lelaki memiliki sifat cenderung menyimpan masalah sendiri, diutarakan
justru nanti setelah masalah selesai. Mengeluh atau mengutarakan masalah sebelum
selesai ibarat “aib” bagi lelaki.
Maka
terkadang di antara para lelaki itu mencari muslimah yang telah mengetahui hal
ini, yang tidak sering memojokkan suami, atau memberondong dengan sejumlah
pertanyaan ketika suami baru saja tiba setelah seharian bekerja. Pun istri yang
punya kapasitas ilmu tentang din ini, memberi ketenangan ketika suami di rumah,
menjaga amanah ketika ditinggalkan.
Ya,
s-a-l-i-n-g. Karena saya yakin pun muslimah juga punya kriteria tertentu
mencari pelabuhan cintanya yang halal. Bahkan mungkin berbanding terbalik dari
kriteria para lelaki. Yang siap mendengarkan keluhan istri, yang siap
memberikan perhatian sepenuh hati. Karena muslimah justru cenderung berkisah
saat masalah hadir. Tapi tak ingin dipotong dengan solusi ketika ia keluhkan
masalahnya.
Ah,
tentu itu hanya anggapan saya saja yang didapat dari tulisan Ust. Salim Akhukum
Fillah di akun twitter beliau. Bisa
jadi ada beberapa yang tidak sesuai dengan keadaan atau watak muslimah
sebagiannya. Termasuk tentang sebagian besar muslimah yang menginginkan suami
yang dapat menjadi imam dan menuntunnya ke dalam surga. Iya, kan?
Kita
saling berbenah karena baik yang muslim maupun yang muslimah sama-sama memiliki
kriteria khusus bagi calon belahan hatinya. Kita sama-sama berbenah karena kita
sudah hafal ayat itu; wanita yang baik hanyalah cocok bagi lelaki yang baik
pula, begitu pun sebaliknya.
Kita
saling berbenah agar kita mencintai pasangan bukan dengan cara kita ingin
dicintai. Kita saling berbenah agar kita kita mampu mencintai pasangan sesuai
cara ia ingin dicintai.
Kita
saling berbenah agar tampaklah jelas antara menyegerakan menikah dengan
tergesa-gesa melangsungkan pernikahan. Betapa banyak dari saudara kita yang
ingin melangsungkan pernikahan sekedar “menjaga diri dari zina”. Baru mendengar
satu atau dua kali pengajian tentang pernikahan, segera meluap-luap
semangatnya. Begitu diingatkan tentang keutamaan menikah di usia muda, segera
terbakar ambisinya. Tanpa berbekal persiapan ilmu, kesiapan psikis, maupun
tanggung jawab untuk berumah tangga.
Lalu
apa saja yang perlu kita saling benahi dan persiapkan? Mengutip Ust. Mohammad
Fauzil Adhim dalam buku terbarunya, Saatnya Untuk Menikah, setidaknya ada 5
hal yang beliau tuliskan dalam 5 sub-bab. Saya tuliskan sedikit darinya dengan
beberapa tambahan secukupnya.
1.
Bekal Ilmu
Kita—termasuk saya—umumnya kurang sekali membekali
diri dengan ilmu-ilmu yang diperlukan dalam berumah tangga, padahal ada
kewajiban-kewajiban maupun kebajikan-kebajikan dalam pernikahan yang menuntut
kita untuk memiliki ilmunya sehingga kita bisa melaksanakan dengan baik dan
tidak menyimpang.
Bukankah
mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada istri, mengingatkan dan menasihati istri,
mendampingi suami, melayani suami, dan sebagainya butuh ilmu? Ilmu yang
berkenaan dengan dengan apa yang akan kita lakukan serta ilmu tentang bagaimana
melakukannya. Mengajarkan ilmu agama kepada istri berarti membutuhkan
penguasaan atas ilmu agama serta ilmu tentang bagaimana mengajarkannya kepada
istri. Menaati suami juga membutuhkan ilmu tentang apa yang harus, perlu, dan
yang tidak boleh ditaati serta ilmu untuk melaksanakannya.
Masalahnya,
ilmu kita sangat terbatas, sedangkan seminar-seminar yang sering diadakan tidak
mungkin memberi bekal ilmu yang memadai.
2.
Kemampuan Memenuhi Tanggung Jawab
Banyak
tanggung jawab yang harus dipenuhi oleh orang yang sudah menikah sehingga
kadang membuat sebagian orang takut memasukinya. Suami berkewajiban memberi
pakaian kepada istrinya, memberi makan, dan menyediakan tempat tinggal sesuai
dengan kadar kesanggupannya. Bersamaan dengan itu, istri berkewajiban pula
untuk menerima penunaian tanggung jawab suami dengan hati terbuka, tidak
menuntut suami untuk memberikan sesuatu yang suami tak sanggup memberikannya. Sehingga mendorong suami ke arah pemaksaan diri untuk memenuhi keinginan istri
yang berada di luar jangkauan. “Sebenarnya…”, kata beliau, “…akarnya ya pada
soal hati. Kita ini sering tidak qana’ah,
sih!”
Pun,
kata beliau, termasuk pula kewajiban tentang pemenuhan kebutuhan seksual.
Jangan sampai karena suami yang merupakan seorang aktivis yang ingin
menunjukkan bahwa pernikahannya semata karena dakwah, lalu ia menahan diri
tidak berhubungan dengan istrinya dalam jangka waktu yang lama. Tidak boleh
seorang suami menelantarkan istrinya dalam perkara ini. Bukankah ‘Umar telah
menetapkan aturan waktu maksimal seorang tentara muslim bertugas meninggalkan
rumah juga karena pertimbangan ini?
Pembicaraan
kita di bagian ini sekali lagi menunjukkan betapa pentingnya ilmu. Jika ada
ilmu pada diri kita, kita akan mengetahui apa yang menjadi tanggung jawab kita
serta bagaimana memenuhinya.
3.
Kesiapan Menerima Anak
Pada
suatu kesempatan mengisi seminar, seorang peserta bertanya dengan nada sedikit
protes. Katanya, “Bapak Pembicara, nikah usia muda tidak menjadi masalah. Tapi,
banyak yang menikah semasa kuliah tidak siap menerima ketika punya anak. Ini
bagaimana? Apakah dengan kenyataan seperti ini, menikah usia muda masih
dianggap baik?”
Ada
sebagian dari saudara kita menikah begitu saja, padahal boleh jadi ia masih
berstatus makruh untuk menikah. Ia hanya memiliki kesiapan untuk menikah, dalam
arti sekedar untuk menghalalkan hubungan mereka sebagai lawan jenis. Masalah
ini perlu diingatkan supaya anjuran menikah pada usia dini tidak ternodai oleh
pernikahan yang tergesa-gesa dari sejumlah ikhwan dan akhwat, serta desakan
dari sejumlah pembimbing halaqah yang belum mengenal betul bimbingannya. Semoga
Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang mendapatkan
ampunan-Nya. Allahumma amin.
4.
Kesiapan Psikis
Betapa
banyak yang mendambakan istri seperti Khadijah, tetapi tidak mau menikah dengan
orang yang usianya sedikit saja di atasnya. Betapa banyak yang merindukan
kemesraan seperti Rasulullah dengan Aisyah, tetapi melupakan bahwa Nabi ada
kalanya harus mengganjal perutnya dengan batu karena dua hari tidak menemukan
makanan.
Kesiapan
psikis untuk berumah tangga juga berarti kesiapan untuk menerima
kekurangan-kekurangan orang yang menjadi pendampingnya. Karena terkadang,
sebagian kekurangan-kekurangan itu memang sepatutnya dimaklumi daripada
dituntut untuk diperbaiki.
5.
Kesiapan Ruhiyah
Sebenarnya,
hanya dengan berbekal kesiapan ruhiyah, telah cukup bagi kita untuk memasuki
jenjang pernikahan. Istilah kesiapan ruhiyah ini lebih merujuk pada kondisi
seseorang yang mudah menerima kebenaran dikarenakan hatinya telah tersentuh
oleh kesadaran agama.
Mereka
yang hatinya telah sangat peka terhadap agama, akan mudah menerima nasihat,
teguran, maupun pemberitahuan mengenai tuntunan agama, sekalipun ilmu mereka
masih sangat kurang. Kesiapan hati inilah yang membedakan, bukan kadar
pengetahuan agama. Orang yang bagus kesiapan ruhiyahnya lebih dapat mengarahkan
dirinya untuk belajar dan mendapatkan apa yang belum dimiliki, baik ilmu maupun
bekal ma’isyah, serta dapat
berhati-hati dalam bertindak.
Tapi,
tunggu. Di mana letak kesiapan finansial? Bukankah menikah tidak cukup dengan
cinta dan cita-cita? Dalam hal ini, Ust. Moh. Fauzil Adhim memang sengaja tidak
memasukkannya. Jika memang tiba saatnya, menikahlah. Tidak usah menunggu mapan
secara ekonomi, kata beliau. Karena kata ba’ah
dalam hadits Nabi lebih tepat ditafsirkan dengan kesiapan dalam memberi
nafkah. Mapan tidaklah dengan sendirinya menunjukkan kesiapan memberi nafkah.
Belum tentu suami yang mampu dalam ekonomi memenuhi kebutuhan istrinya, bahkan
dalam hal primer sekalipun, seperti makan. Kesiapan memberi nafkah lebih
berkait dengan kesiapan untuk sungguh-sungguh bekerja keras mencari nafkah bagi
keluarganya, meskipun sebelumnya ia tidak mampu secara ekonomi.
Bukankah ‘Ali sebelumnya tak punya apa-apa untuk dijadikan mahar sehingga ia harus menjual baju perangnya?
Kesiapan-kesiapan
yang telah diterangkan di atas tidaklah bermaksud membuat ragu mereka yang
hendak melangsungkan pernikahan terutama di usia dini. Ah, tentu saja ini semua
lebih tepat ditujukan kepada diri penulis. Tak lain ini hanyalah berbagi
sedikit dari pengetahuan yang penulis miliki. Berharap satu atau dua jiwa dapat
mengamalkannya sudahlah cukup. Sekali lagi, kesiapan ini agar tampaklah jelas
antara menyegerakan pernikahan dengan tergesa-gesa dalam menikah.
Agar
bila di antara kita ada yang mengharapkan istri seperti Khadijah, dapat
terlebih dahulu memperbaiki diri agar layak mendapatkan muslimah seperti beliau.
Dan agar bila di antara kita merindukan suami layaknya ‘Ali ibn Abi Thalib,
dapat segera memantaskan diri menjadi seperti Fatimah. Semoga Allah membimbing
kita menemukan pendamping hidup yang baik menurut-Nya dan yang dapat
mengantarkan kita ke jannah-Nya kelak. Amin.
Allahu a’lam bi
ash-shawab. []
Romansa Perang Hunain
Mereka memang sahabat Sang Nabi, tetapi toh mereka tetap manusia biasa. Rasa iri terhadap pembagian harta yang dianggap "tidak adil" terkadang pula berbisik pada celah-celah jiwa insani mereka. Namun, kelak kita kan tahu bahwa mereka adalah bagian dari sebaik umat. Dan Rasul yang berada di tengah-tengah mereka sungguh sebenar-benar manusia mulia.
Siapa yang tak meradang?
Semua orang tahu, Ansharlah yang menjaga Nabi dan kaum Muhajirin ketika pertama kali datang di Madinah. Ansharlah yang menyambut mereka seusai hijrah yang melelahkan. Ansharlah yang menampung mereka saat papa itu menggeliat di sekujur tubuh.
Tetapi apa yang mereka peroleh di Perang Hunain? Tidak secuil harta pun.
Sedangkan Abu Sufyan dari Mekkah mendapat jatah empat puluh Uqiyah (satu Uqiyah setara empat puluh dirham) dan seratus ekor Unta. Itu saja masih ditambah lagi dengan jumlah yang serupa untuk anaknya; Yazid. Dan ditambah lagi dengan jumlah yang serupa bagi anaknya yang lain; Mu'awiyah.
Adapun Hakim ibn Hizam mendapat dua ratus ekor Unta. Sedangkan Shafwan ibn Umayyah peroleh tiga ratus ekor Unta.
Bahkan Sang Rasul sampai terdesak ke sebuah pohon dan mantel beliau terlepas sementara orang-orang Arab tak henti mengerumuni beliau meminta harta. Semua orang akhirnya mendapatkan jatah, kecuali kaum Anshar.
Adalah Sa'ad ibn Ubadah yang melaporkan perasaan mengganjal itu kepada Rasulullah.
Maka Sang Nabi segera mengumpulkan orang-orang Anshar pada suatu tempat. Tak satu pun kaum Muhajirin boleh masuk. Ba’da memuji dan mengagungkan Allah, sabda yang menggetarkan hati itu beliau mulai.
"Wahai semua orang Anshar, ada suara kasak-kusuk yang sempat kudengar dari kalian. Dan dalam diri kalian ada perasaan yang mengganjal terhadap aku. Bukankah aku dulu datang, sementara kalian dalam kesesatan lalu Allah memberi petunjuk kepada kalian? Bukankah kalian dulu miskin lalu Allah membuat kalian kaya, juga menyatukan hati kalian?"
Mereka menjawab, "Begitulah Allah dan Rasul-Nya lebih murah hati dan lebih banyak karunianya."
Seraya bulir-bulir air mata mulai menggantung di kelopak.
"Apakah kalian tidak ingin memenuhi seruanku wahai semua orang Anshar?" Nabi kembali bertanya.
"Dengan apa kami memenuhi seruanmu wahai Rasulullah? Milik Allah dan Rasul-Nyalah anugerah dan karunia," sahut mereka dengan setetes air mengalir di pipi.
Beliau kembali berkata, "Demi Allah, kalau kalian mau, sementara kalian bisa membenarkan dan dibenarkan, maka kalian bisa berkata;
'Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, namun justru kami yang membenarkan engkau. Dalam keadaan lemah, kamilah yang menolong engkau. Dalam keadaan terusir, justru kamilah yang memberi tempat. Dalam keadaan papa, justru kamilah yang menampung engkau.'
"Apakah di dalam hati kalian masih terbersit harta keduniaan, yang dengan keduniaan itu aku hendak mengambil hati segolongan orang agar masuk Islam, sedangkan terhadap keislaman kalian aku sudah percaya?
"Wahai orang Anshar, apakah kalian tidak berkenan di hati, jika orang lain pergi membawa domba dan unta, sedangkan KALIAN KEMBALI BERSAMA Rasul Allah ke tempat tinggal kalian?
"Demi yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, kalau bukan karena hijrah, tentu aku termasuk orang-orang Anshar.
"Jika orang-orang menempuh suatu jalan di celah gunung, dan orang-orang Anshar menempuh suatu celah gunung yang lain, tentu aku memilih celah yang ditempuh orang-orang Anshar.
"Ya Allah rahmatilah orang-orang Anshar, anak-anak orang Anshar, dan cucu orang-orang Anshar."
Kaum Anshar yang hadir pun menangis sesunggukan. Jenggot mereka basah, tak kuasa menahan air mata yang terlanjur menganak-sungai.
Dialog detik itu diakhiri dengan penerimaan yang luar biasa, "Kami rida terhadap Rasulullah dalam masalah pembagian ini."
Allahumma shalli 'ala Muhammad. Dan kita bisa dapati sekarang bagaimana keadaan Madinah. Konon, harga tanah di sana kini mencapai jutaan riyal Saudi per meter persegi. Berbeda dengan daerah-daerah lain.
Allahumma shalli 'ala Muhammad. Semoga kita menjadi insan-insan yang bisa menemukan teladan yang tepat. Teladan selayaknya kaum Anshar. Mencintai Nabi-Nya melebihi cinta mereka pada harta. Merekalah Sang Penolong Rasul kala hijrah, tetapi keridaan Allah dan Rasul-Nya jelas melebihi bayaran apa pun.
Allahumma shalli 'ala Muhammad.
Sajak Kaca Bus
Pada yang mengguyur
Kaca bus samping kiri
Temani ku pekikan kisah kebanggaan
Tentang
Cucu-cucu mushalla baik adab
Rokok makanan lainnya sepulang belajar
Ah, mereka lebih pilih mengunyah dzikir
Lainnya laki wanita campur baur
Mereka ambil Qur’an jadi karib
Dan shalihin shalihat jadi sahabat, tak sedikit
Nilai enam puluh buah contekan
Tak ada dalam kamus
Seringnya sembilan puluh lima warisan kerja sendiri
Saat-saat kutanya,
“kau bisa (hidup) asal, tua mu jauh”
Katanya ringkas
“ku takut mati esok”


















