Nulis Suka-Suka

Resensi Memory of Glass: Mencari Pecahan Ingatan Seorang Pembunuh



Polisi bilang, aku melaporkan diriku sendiri.
Kata mereka, aku membunuh seorang pria.
Hanya saja… aku tidak ingat.
Aku tidak ingat pernah melapor, apalagi membunuh orang.

Sebenarnya, apa yang terjadi?

Setelah menamatkan Giselle, saya tidak terlalu mengikuti kabar mengenai novel terbaru Akiyoshi Rikako. Buka Instagram Penerbit Haru pun sekadar scrolling. Sampai seorang teman bertanya, “Sudah ikutan pre order Memory of Glass?”

Hah?

Tidak lama kemudian saya mengulik infonya, tapi masih menahan diri untuk membeli. Maklum, harganya lumayan *peace sign. Buah kesabaran memang tidak pernah mengecewakan. Akhirnya beruntung mendapatkan diskonan di Islamic Book Fair 2020, sekaligus belanja novel Murder at Shijinso yang tahun lalu sudah difilmkan.

Apa yang menarik dari Memory of Glass?

***

Seperti biasa, kesan kelam menyelimuti novel-novel karangan cerpenis Yuki no Hana ini. Terlebih, penerbit mendesain sampul berwarna dominasi hitam, lengkap dengan gambar seorang wanita yang memegang pisau di antara pecahan kaca. Atmosfer honkaku mystery yang berisi teka-teki pembunuhan pun semakin membuat bulu kuduk merinding.

Lembar cerita dibuka melalui penuturan Kashihara Mayuko yang tiba-tiba mendapati dirinya berada di rumah sakit. Tetapi ia tidak ingat apa pun. Wanita berusia 41 tahun itu bahkan masih merasa sebagai seorang siswi SMA.

Di tengah kebingungan itu, Kiritani Yuka dan Nomura Junji berdiri di hadapannya. Dua detektif tersebut menjelaskan semua yang terjadi secara perlahan. Termasuk mengenai Mayuko yang melaporkan dirinya telah membunuh seseorang dan penyakit Gangguan Fungsi Eksekutif Otak yang membatasi ingatannya.

Korban bernama Gouda. Pria yang membunuh kedua orang tua Mayuko sekitar dua puluh tahun silam secara sporadis di pinggir jalan Ginza. Mayuko berusaha lari. Malangnya, ia tertabrak mobil yang dikendarai Mitsuharu, yang kini menjadi suaminya. Karena luka di bagian otaknya, ingatan Mayuko ibarat kaca: rapuh, mudah pecah, bahkan hanya bertahan selama 10-20 menit.

Penyelidikan berjalan alot. Padahal tersangka sudah di depan mata, tetapi bukti tidak mencukupi dan nihil saksi mata. Bantuan dari Mitsuharu pun tampaknya kurang memberikan titik terang,

Saat itulah muncul sosok Yonemori Hisae. Kepada kedua detektif di atas, ia menerangkan berbagai kejanggalan selama penyelidikan. Kasih sayangnya yang ingin menyelamatkan Mayuko turut melahirkan kecurigaan pada Mitsuharu. Ia juga tidak segan menyewa Ogio Masamichi, pengacara muda yang namanya cukup dikenal di dunia penggiat HAM.

Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah Mayuko yang mudah lupa itu benar-benar bisa membunuh seseorang? Atau jangan-jangan, ada pihak ketiga? Siapa yang harusnya Mayuko… eh, yang harus pembaca percayai?

***

Alur cerita kali ini berjalan dalam tempo yang agak lambat. Akiyoshi Rikako secara jeli menyusun berbagai kepingan puzzle yang menghadirkan detail-detail kecil kepada pembaca. Berkat penerjemahan yang apik, detail tersebut tidak terasa membosankan. Pembaca lagi-lagi dibuat penasaran, menerka-nerka, sekaligus menata akhir cerita di benaknya sendiri.

Tempo yang lambat ini juga disebabkan karena penulis memakai dua sudut pandang berbeda. Pada satu bab, cerita berpusat di Mayuko dengan sudut pandang orang pertama. Kita bisa ikut merasakan betapa polosnya penderita gangguan otak yang hampir setiap saat harus segera menulis apa yang terjadi di secarik kertas atau tangannya sendiri. Penuh kesedihan, penuh penderitaan.

Lalu pada bab lain, penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga yang menyoroti kehidupan Kiritani Yuka. Di sela pekerjaan, ia juga harus merawat ibunya yang menderita gangguan otak serupa. Lebih tepatnya demensia tipe Alzheimer.

Plot twist yang tersaji mungkin tidak terlalu mengejutkan. Apalagi kalau sudah membaca Holy Mother. Ekspektasi kita barangkali berlebihan. Meski begitu, ending cerita justru menghangatkan hati hingga meleleh.

Pembaca disentak dengan kenyataan betapa sulitnya merawat orang-orang dengan penyakit seperti Mayuko. Bahkan apabila orang tersebut adalah keluarga kita sendiri, terlebih orang tua. Perilaku mereka seperti anak bayi. Tapi bayi pun punya “masa depan” dan kita hanya harus bersabar beberapa tahun lagi sampai mereka dewasa. Tetapi orang yang sudah tua? Mereka tidak akan tumbuh lagi. Di tengah keputusasaan itu, kita pun harus siap menelan pil pahit kehilangan.

Terima kasih, Sensei. Benar-benar novel yang luar biasa!

Tidak melakukan apa yang tidak bisa dilakukan itu, tidak buruk dan tidak salah. Tidak ada artinya memaki diri sendiri atau tertekan oleh rasa bersalah.” (h. 345)


Judul: Memory of Glass
Penulis: Akiyoshi Rikako
Penerbit: Penerbit Haru
Tebal: 360 halaman
Cetakan: I, November 2019
Nomor ISBN: 978-623-7351-21-4

Share:

4 Tahun Insan Bumi Mandiri: 4 Benih untuk 4 Ladang Kebaikan



“Service to others is the rent you pay for your room here on earth.” [Muhammad Ali]

Ibu Guru, Kami Takut Meja Patah.

Itulah sebaris judul surat yang ditulis oleh Diana Cristiana Da Costa Ati, salah satu Guru Penggerak Daerah Terpencil (GPDT). Dalam surat yang sempat viral di media sosial pada 2019 lalu itu, Diana bercerita mengenai betapa mirisnya kondisi gedung sekolah dan fasilitas bagi para siswa di pedalaman Mappi, Papua. Tidak tanggung-tanggung, surat tersebut ditujukan langsung kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim.

Lain halnya dengan Katarina Jareng. Bocah perempuan tersebut mesti rela belajar sambil menimba air untuk keperluan sekolahnya yang mengalami krisis air bersih sejak 2013 silam. Ia dan teman-temannya dari SMP 6 Aesesa di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) berjalan jauh sekitar 3 hingga 5 kilometer di tengah panas menyengat. Itu pun masih harus mengantre selama satu jam.

Wilayah pedalaman Indonesia terus menyimpan sejuta kisah yang membuat pilu. Ketika kita bingung mau makan apa di antara beragam pilihan menu yang ada, sebagian dari masyarakat tanah air justru bingung hendak makan apa sebab tak ada pilihan bagi mereka. Saat kita mengeluh selepas menerjang kemacaten kota, sebagian saudara di sana tengah berjuang menerjang derasnya air sungai demi pengabdian yang mungkin tidak pernah dinilai.

Contohnya, sosok seorang guru yang diselamatkan tim Insan Bumi Mandiri pada tahun 2016 di NTT. Ia melepas baju, lantas berenang menyeberangi laut! Tangan satunya berputar mengayuh, tangan yang lain memegang tasnya agar tidak basah. Semua itu demi mengajar, demi merawat asa murid-muridnya di masa depan.


Masalah bak terik sang surya, datang ke dunia bersama ribuan karunia. Ketika mereka yang hidup di pedalaman dilanda kesusahan, barangkali itulah ladang kebaikan yang Allah siapkan bagi kita yang berada di zona nyaman.

Dan di antara para “petani” yang berinisiatif menggarap ladang tersebut, lahirlah Insan Bumi Mandiri (IBM). Berbekal slogan Sahabat Pedalaman, IBM selama 4 tahun telah menanam 4 benih utama bagi 4 ladang kebaikan, khususnya di pedalaman Indonesia Timur. Masing-masing benih tersebut, yaitu: Pembangunan, Pendidikan, Kesehatan, dan Pemberdayaan.

1. Benih Pembangunan

“Mungkin yang benar-benar dakwah yang sekarang sedang bikin masjid di pedalaman Kalimantan, pedalaman Sulawesi. Itu dakwah betul,” ujar Gus Baha pada acara yang digelar Lembaga Dakwah PBNU, September 2019 lalu. Walaupun niatnya menyindir, ucapan Gus Baha tersebut dapat menjadi renungan. Terlebih, mengingat banyak masjid di pelosok Indonesia yang kondisinya tidak layak.

Di samping itu, secara umum pembangunan di pedalaman memang masih lambat. Rumah warga, jembatan, akses listrik dan air, dan persoalan lainnya menutupi pesona alam yang kerap mewarnai daerah sekitar. Bahkan akibat krisis air bersih, 24 balita di Desa Odaute, NTT sampai menderita stunting.

Ladang kebaikan ini dibajak IBM melalui sejumlah program pembangunan masjid, rumah, sekolah, jembatan, serta berbagai infrastruktur lain yang menunjang kehidupan warga pedalaman. Terbaru, IBM menggelar kampanye Patungan Semen untuk Masjid Darul Ulum di Sumatera Selatan yang kondisinya semi terbuka, hanya ditutup kayu dan asbes, bahkan sering kebanjiran.

2. Benih Pendidikan

Pendidikan adalah senjata terbaik untuk mengubah dunia. Sayangnya, banyak sekali anak-anak di pedalaman yang tidak memperoleh “senjata” ini. Jangankan mengubah dunia, mengubah dirinya saja mereka tak mampu. Permasalahan bukan hanya pada kualitas pendidikan, rendahnya gaji guru, maupun bobroknya bangunan sekolah. Melainkan termasuk akses menuju tempat mereka belajar serta ketersediaan sarana dan prasarana.

Seperti yang ditemukan para relawan IBM pada 2017 lalu. Sekelompok anak kecil setiap hari harus menyusuri hutan untuk menuju sekolah mereka di Embacang, Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan. Jika tak hati-hati, pacet-pacet yang bersembunyi di balik lumpur dan dedaunan kering bisa menempel di kaki mereka.

Sudah tidak terbilang program-program yang diluncurkan IBM untuk menyelamatkan pendidikan di pedalaman. Mulai dari memberikan beasiswa, membangun TPA dan pesantren, renovasi sekolah dan madrasah, penyediaan peralatan pendidikan, hingga pengadaan perahu untuk memudahkan akses para pelajar.


3. Benih Kesehatan

Pernah mendengar istilah Facial Cleft? Istilah ini merujuk pada penyakit kelainan yang menyebabkan wajah memiliki bentuk yang tidak normal. Penyakit langka ini juga membuat fungsi organ pada wajah menjadi tidak sempurna. Meski tergolong jarang, nyatanya sejumlah adik kita pedalaman mengalami hal demikian. Dan di situlah, IBM berkesempatan menolong beberapa di antaranya.

Dilansir dari situs insanbumimandiri.org, setidaknya ada 4 saudara kita yang terkena Facial Cleft. Yaitu, Aidil, Putri, dan Titah dari Sumatera Selatan, serta si kecil Ali dari Jawa Timur.

“Saya ingin lihat wajah Ali. Bagaimana mata dan hidung mungilnya. Saya percata suatu saat nanti, itu bisa terjadi. Saya akan melihat dia bisa makan lahap, bisa senyum, dan tertawa,” doa ibu Ali yang suaminya hanya memperoleh upah Rp80.000/hari sebagai buruh jahit harian.

Tidak terbatas itu, IBM tercatat juga menggalakkan kampanye pengobatan, terutama bagi warga kurang mampu.

4. Benih Pemberdayaan

November 2019 lalu, program Tenun.In (Tenun Indonesia) yang diprakarsai oleh IBM resmi berjalan. Program ini bertujuan untuk memberdayakan ekonomi para pengrajin tenun di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.

“Program ini diharapkan mampu memberdayakan pengrajin tenun local secara berkelanjutan. Lebih dari itu, program Tenun.In juga diinisiasi untuk mengangkat potensi lokal dan menjadikan tenun sebagai produk berkelas nasional bahkan internasional,” ujar Ridwan Hilmi selaku Direktur IBM.

Pemberdayaan merupakan metode baru dalam pengentasan masalah sosial. Cara ini dipandang lebih tepat karena dampaknya terasa untuk jangka panjang. Masyarakat akhirnya tidak melulu harus memelas bantuan. Mereka justru dapat hidup di atas kaki sendiri.

Tidak hanya dalam penguatan ekonomi, program pemberdayaan dari IBM turut menyasar distribusi daging kurban, pemberian hadiah umroh, hingga pengadaan kendaraan seperti motor dan perahu bagi mereka yang mengabdi di pedalaman.

***

Selayaknya benih, ia perlu dipupuk, diberi air yang cukup, dan dirawat sedemikian rupa sampai tumbuhlah tunas serta batangnya. Dalam waktu tertentu, masyarakat kemudian berhasil memetik buahnya. Memahami proses ini bukan sekadar supaya kita sadar dan peduli terhadap berbagai ladang di sekitar. Namun juga menginsyafi bahwa sangat mungkin bukan kita yang akan menikmati buah-buah kebaikan itu. Mungkin anak dan cucu kita. Mungkin 5, 10, atau 20 tahun lagi benih itu akhirnya panen.

Begitulah kerja kerelawanan.

Empat tahun menggarap ladang bukanlah waktu yang lama. Masih banyak kerja-kerja besar yang membutuhkan pikiran-pikiran raksasa dan tenaga-tenaga andal. Meski begitu, tidak ada pencapaian yang tidak layak disyukuri. Terima kasih Insan Bumi Mandiri telah mewakili kami, masyarakat kota yang kerap lupa terhadap saudara sendiri. Titip salam hangat dari kami, dan selamat berkarya kembali!

“Volunteers don’t get paid, not because they’re worthless, but because they’re priceless.” [Sherry Anderson]




***
Referensi:
https://regional.kompas.com/read/2019/11/12/08100011/ini-kondisi-sekolah-di-papua-yang-ditulis-dalam-surat-untuk-mendikbud-nadiem
https://kumparan.com/florespedia/smp-di-pedalaman-ntt-ini-tak-ada-air-muridnya-jalan-3-km-bawa-jeriken-1rc0V9INFNb
https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/19/09/26/pyf6xk313-gus-baha-dakwah-sebenarnya-bikin-masjid-di-pedalaman
https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/prdr2v396/masjid-di-pelosok-indonesia-banyak-yang-tak-layak
https://www.wartaekonomi.co.id/read189070/mendes-akui-pembangunan-daerah-pedalaman-masih-lambat
https://kumparan.com/florespedia/desa-di-ntt-krisis-air-bersih-tak-ada-listrik-24-balitanya-stunting-1smTG8JGwwc
https://insanbumimandiri.org/id/campaign/patungan-semen-untuk-masjid-darul-ulum-sumsel
https://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/18/10/22/pgzoa7352-insan-bumi-mandiri-bantu-pendidikan-di-ntt
https://insanbumimandiri.org/id/post/mereka-inilah-pejuang-facial-cleft-dari-pedalaman
https://www.industry.co.id/read/45457/angkat-potensi-lokal-insan-bumi-mandiri-luncurkan-program-
Share:

Resensi Buku Sang Pangeran dan Janissary Terakhir



Sejarah adalah milik para pemenang. Adagium itu terlintas dalam lamunan ketika saya tengah mengikuti kelas Sekolah Pemikiran Islam beberapa tahun silam. Tepatnya saat pembicara berpesan, “Hari ini kita kekurangan ahli sejarah. Bayangkan, penelitian mendalam mengenai Pangeran Diponegoro justru dilakukan oleh Prof. Peter Carey, sejarawan yang bukan asli orang Indonesia.”

Tidak banyak yang saya ingat mengenai Sang Pangeran, kecuali kekaguman atas gelarnya yang terdengar islami. Itu pun saya lupa lengkapnya. Sisanya, sayup-sayup terlukis nama Kyai Mojo dan makam leluhur yang terimbas pembangunan jalan sehingga meletuskan Perang Diponegoro.

Barulah belakangan saya tahu, teori yang diajarkan sejak SD itu memang diambil dari arsip-arsip Belanda. Benar, kan? Sejarah memang milik para pemenang.

Lalu, apa yang sebenarnya melatarbelakangi perang pada 1825-1830 itu?

Syukurlah, referensi peradaban tanah air tidak putus sepenuhnya melalui kelahiran novel Sang Pangeran dan Janissary Terakhir. Inilah novel pertama yang ditulis oleh Ust. Salim A. Fillah. Walaupun, sebagian dari kita mungkin sudah terbiasa mereguk hikmah dalam buku-buku beliau lainnya, yang banyak menuturkan kisah menakjubkan.

Sang Pangeran dan Janissary Terakhir ditulis menggunakan plot maju-mundur dengan sudut pandang orang ketiga. Sesuai judulnya, novel ini tidak hanya menyoroti Pangeran Diponegoro, terutama menjelang berakhirnya masa perang. Melainkan juga petualangan Nurkandam Pasha dan kawan-kawan yang berusaha membantu atas nama pasukan elit Turki Utsmaniyah, Janissary.

Dari situ kita bisa menebak bahwa Perang Diponegoro bukan perang lokal biasa. Demi mengalahkan pasukan multinasional, tidak cukup bermodalkan semangat kesukuan saja.

Sebagai fiksi sejarah, novel setebal 632 halaman ini menyajikan banyak fakta menarik. Mulai dari latar belakang terjadinya perang, alasan mengapa Janissary harus turun tangan, perseteruan Daendels dan Van den Bosch yang bekerja di bawah dua kekaisaran berbeda, hingga kronologi pengasingan Pangeran Diponegoro.

Riset mendalam, sebagai puzzle yang hilang di banyak novel Indonesia, tersusun apik di dalam novel. Kaya diksi, tanpa harus berputar-putar dan sok menyastra. Pembaca juga bisa lebih mengenal aneka makanan khas dari berbagai negara. Namun, terkadang saya masih bingung dengan beberapa gambaran mengenai deskripsi lokasi maupun bangunan. Ya, mungkin karena baru mendengarnya.

Sisi menarik lainnya, berulang kali kata “Maktub” tertuang di tengah dialog. Ini mengingatkan saya pada masterpiece Paulo Coelho, Sang Alkemis. Keduanya sama-sama mengajak kita menginsyafi diri bahwa segala sesuatunya telah tertulis. Termasuk pecahnya Perang Diponegoro, yang ternyata menggelindingkan bola salju kemerdekaan Republik Indonesia.

Bagaimanapun, bagi sebagian orang, sebuah novel masih belum kuat dijadikan sebagai referensi sejarah. Tapi kita berdoa dan berharap, dari yang belum sempurna ini mampu mendorong lebih banyak orang untuk mengupas lebih jauh warisan sejarah bangsanya sendiri.


Judul: Sang Pangeran dan Janissary Terakhir
Penulis: Salim A. Fillah
Penerbit: Pro-U Media
Terbit: 2019
ISBN: 978-623-7490-06-7

Share:

Resensi Si Anak Badai: Persahabatan, Perjuangan, dan Kemenangan



Mendung Sebelum Badai


Ada kejadian menarik saat aksi unjuk rasa mahasiswa mengenai Revisi UU KPK beberapa waktu lalu. Yakni hadirnya peserta demo dari kalangan siswa SMA/SMK. Tak pernah kita mendengar anak-anak ini turun ke jalan. Sontak, media dan masyarakat dibuat terheran-heran. Ada yang mengapresiasi, dan tidak sedikit pula yang meremehkan, “Anak sekolah ngerti apa?”

Terlepas dari kontroversi tersebut, sudah sepatutnya kita menyadari bahwa mungkin ada lubang dalam pendidikan negeri ini. Pendidikan kita terlambat membuat mereka dewasa. Seakan menganggap mereka sulit diajak berpikir kritis. Padahal usia remaja, khususnya yang sudah baligh, bukan lagi masa-masa hanya memikirkan diri sendiri. Nurani mereka dapat dipupuk untuk peduli dan ambil bagian dalam memperbaiki negeri.

Buktinya, 2001 silam, lebih dari lima ratus pelajar yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Pelajar Muslim Indonesia (KAPMI) DKI Jakarta melakukan aksi damai di Bundaran Hotel Indonesia. Aksi bertajuk Pelajar Cinta Damai itu menuntut elit politik agar segera menghentikan pertikaian, meningkatkan SDM guru, menurunkan biaya pendidikan, serta mengembalikan perhatian pemerintah kepada masalah pelajar.

Pendidikan bukan hanya berbicara tentang sekolah. Salah satunya, seberapa besar dan mudah masyarakat mengakses buku bacaan. Di sinilah, menurut saya, terdapat missing link genre buku berdasarkan usia.

Buku anak berserakan di mana-mana. Buku-buku untuk kalangan dewasa, minimal untuk kategori mahasiswa, berlimpah ruah. Namun, buku yang fokus menyasar remaja? Minim sekali jumlahnya. Kalaupun ada, masih didominasi tema percintaan, baik yang berunsur komedi atau berakhir sedih.

Hadirnya Serial Anak Nusantara, terutama Si Anak Badai, barangkali bisa sedikit menambal missing link itu. Melalui novel yang menggugah jiwa ini, kita diajak untuk semakin dekat dengan budaya negeri sekaligus menyadari apa yang sesungguhnya sanggup dilakukan oleh para remaja. Semuanya terangkum dalam tiga kata: persahabatan, perjuangan, dan kemenangan.

***

Badai


Si Anak Badai mengambil latar belakang di Kampung Manowa. Sebuah tempat yang dilukiskan sebagai perkampungan para nelayan. Lengkap dengan rumah-rumah yang berdiri tegak di atas sungai serta jalan-jalan kecil yang terbuat dari papan kayu ulin.

Di dunia nyata, sulit menebak lokasi persis kampung tersebut. Mungkin memang fiksi. Tapi kita tahu, kehidupan nelayan sudah melekat pada sebagian besar penduduk negeri ini. Terlebih, atmosfer Nusantara semakin kental melalui penamaan tokoh seperti Ode dan Ros, penggambaran pasar terapung, dan penggunaan panggilan “Oi!” khas tanah Sumatra.

Oi, Indonesia pun punya pasar terapung ternama. Contohnya yang ada di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Pasar tersebut dahulu dibangun oleh pedagang-pedagang Melayu. Di Palembang juga ada. Tepatnya di atas Sungai Musi. Berbelanja sembari menikmati kecantikan Jembatan Ampera.

Latar waktunya mungkin sekitar awal 2000-an, sekitar tahun 2002-2003 ketika KPK baru pertama kali dibentuk. Selain ditandai dengan berdirinya lembaga tersebut, pembaca juga dapat menilai dari adegan ibu-ibu penabuh rebana yang menyanyikan lagu khas Nasida Ria. Zaenal pun sempat menyebut tokoh kartun bajak laut yang punya kemampuan memelarkan tubuhnya bak karet. Tokoh yang dimaksud bisa jadi Luffy dari serial kartun One Piece, yang masih boleh tayang di layar kaca pada awal millenium lalu.

   Nenek moyangku seorang pelaut
   Gemar mengarung luas samudra
   Menerjang ombak tiada takut
   Menempuh badai sudah biasa

Tidak ada awal dalam novel ini.

Pembaca segera dihadapkan pada keramaian kampung nelayan melalui tokoh utama Zaenal (sudut pandang orang pertama). Bersama Malim, Ode, dan sejumlah anak lain, mereka berebut mengambil koin yang dilemparkan para penumpang kapal ke atas sungai. Seru, meski tampak berbahaya. Persis sebagaimana aktivitas anak-anak pengumpul koin di Pelabuhan Merak atau Pelabuhan Ketapang Banyuwangi.

Cerita terus berpusat pada Zaenal, Malim, Ode, dan Awang. Kelak bocah-bocah yang baru berusia 12 tahun ini disebut Geng Si Anak Badai karena petualangan besar yang berhasil dilewati.

Sepanjang sepertiga buku, hari-hari tampak cerah. Ada kelucuan di tengah omelan Pak Kapten. Ada pelajaran kehidupan saat keempatnya berinteraksi dengan Guru Rudi. Ada sedikit tangisan kala mengingat kasih sayang Mamak. Ada nuansa keakraban dan semangat gotong-royong dalam beberapa kejadian.

Namun semua perlahan berubah ketika Pak Alex dan Utusan Gubernur datang.

Keduanya merupakan inisiator pembangunan pelabuhan di Kampung Manowa. Sayangnya, rencana pembangunan tersebut hanya diputuskan sepihak tanpa melibatkan warga setempat. Penduduk kampung tentu menolak. Apalagi, tidak ada kejelasan mengenai ganti-rugi dan nasib mereka ke depan.

Apakah pembangunan pelabuhan itu akan terus berlanjut? Bagaimana takdir akan berakhir bagi kehidupan Zaenal, Malim, Ode, Awang, serta penduduk lainnya?

   “Kehidupan terus berlanjut tanpa melihat kita sedang sedih atau gembira.”
   (Hal. 225)

***

Cahaya Setelah Badai


Selama lebih dari 50 tahun, Weekly Shonen Jump sebagai majalah komik terlaris di Jepang berhasil menginspirasi ribuan hingga jutaan anak muda di sana. Bukan hanya mengasyikkan, sebagian besar komik yang diterbitkan selalu hadir dengan tiga elemen penting: persahabatan, perjuangan, dan kemenangan.

Sebut saja serial Captain Tsubasa, yang akhirnya sukses mendorong remaja-remaja pria di negeri sakura untuk menjangkau mimpinya sebagai pesepak bola kelas dunia. Contoh lainnya serial Naruto, yang bersama teman-teman satu angkatannya berjuang menyelamatkan dunia ninja (shinobi).

Nilai-nilai tersebut tergambar pula dalam novel Si Anak Badai.

Mereka mungkin tidak sampai pergi menyelamatkan dunia. Tetapi Zaenal, Malim, Ode, maupun Awang mengajarkan kita bahwa ratusan kemenangan kecil bisa diraih bersama sahabat-sahabat terbaik, melalui sedikit pengorbanan dan usaha keras.

Kita sering terbuai untuk buru-buru mengubah semesta. Tanpa disadari, banyak langkah kecil yang sebenarnya bisa diwujudkan. Di sekeliling kita. Di lingkungan kita sendiri.

Awang, si pandai berenang, rela telanjang bulat lalu menyelam di bawah sekolah demi mengambil bolpoin kesayangan adik kelasnya. Zaenal tidak mau pulang sebelum selesai memperbaiki kesalahan ukur baju, sebagai bentuk tanggung jawab. Malim yang dipaksa kembali bersekolah oleh ketiga temannya. Hingga petualangan mereka di tengah badai sungguhan dan ketika berupaya menghentikan pembangunan pelabuhan.

Apa pun bisa dicapai, asal ada sahabat terbaik di situ.

Ingat! Mereka semua masih usia belasan tahun. Di umur segitu, saya masih ketagihan main kelereng. Ya begitulah, pendidikan kita terlambat mendewasakan. Alhasil, hari ini sulit rasanya menemukan sosok mirip Usamah bin Zaid yang pada usia 19 tahun telah menjadi panglima perang, membawahi veteran sekelas Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Hampir mustahil sepertinya menjumpai anak muda bak Muhammad Al-Fatih yang pada usia 24 tahun berhasil menaklukan benteng Konstantinopel, ibukota dunia pada saat itu.

Pernah menemukan anak kelas 6 SD yang berani menghentikan sebuah proyek besar? Atas nama keadilan. Demi kampungnya tercinta! Demi tanah leluhurnya tersayang!

Di sini Tere Liye juga menyajikan secuplik kenyataan pahit. Betapa masih banyak terjadi pembangunan terselubung yang bersembunyi di bawah ketiak modernisasi. Tidak mengindahkan kearifan lokal, dananya pun masuk kantung sendiri. Warga di desa-desa bisa apa? Suara mereka tidak akan didengar. Para pengadil disumpal cuan berjuta-juta.

Kritik sosial semacam ini mengingatkan saya pada buku The Hundred-Year-Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared karangan Jonas Jonasson. Jurnalis asal Swedia itu membawakan kritik pada kegilaan dunia melalui novel komedi yang inspiratif. Konflik yang tersaji tidak sampai membuat kita mengernyitkan dahi. Pembaca hanya akan tenggelam bersama aliran cerita.

Dalam Si Anak Badai sendiri, hanya 9 dari 25 bab yang benar-benar terhubung dengan konflik pembangunan pelabuhan. Sisanya, mempertontonkan kehidupan kampung yang berjalan lambat, akrab, dan saling menolong. Sesuatu yang semakin pudar, khususnya di tengah masyarakat perkotaan. Cenderung egosentris dan kehilangan adab. Sampai-sampai kita mendengar kabar seorang ibu membunuh anaknya sendiri karena depresi oleh ocehan mertua dan tetangga.

Persahabatan, perjuangan, dan kemenangan.

Kita rindu pada remaja-remaja yang peduli pada lingkungannya. Kita rindu pada manusia yang tidak hanya berpikir mengenai dirinya sendiri. Namun sejatinya, kita juga rindu pada diri kita. Pada diri yang terlukis dalam sosok Si Anak Badai.




Judul : Si Anak Badai
Penulis : Tere Liye
Co-author : Saripuddin
Penerbit : Republika Penerbit, Jakarta
Tebal : 322 halaman
Cetakan : I, Agustus 2019
Nomor ISBN : 978-602-573-4939

Share:

3 Cara Mudah Kirim Uang Tanpa Perlu Pergi ke Bank



“Horeee.. Alhamdulillah cair!”
Sudah genap satu bulan sejak Mamat diterima bekerja di sebuah perusahaan swasta. Awalnya ia hanyalah seorang pengangguran yang merantau ke ibukota. Selama berminggu-minggu, pria yang hanya memiliki ijazah SMA itu bertahan tanpa pemasukan. Mencari lowongan kerja ke satu gedung bertingkat ke gedung bertingkat lainnya.
Kini hasil perjuangannya pun mulai terasa. Selain memenuhi kebutuhan sehari-hari, sekarang Mamat juga bisa sedikit mengirim uang untuk ibunya yang hidup sebatang kara di kampung sana.
“Eh tapi, si mbok e’ mana punya rekening?” pikirnya sejenak.
Mamat juga lekas menutup opsi pulang ke kampung. Di samping tidak ada hari libur, biayanya tentu mahal kalau harus bolak-balik ke kampung sebulan sekali. Bagaimana, ya?
Beruntung, esoknya seorang teman di kantor memberitahu Mamat kalau sekarang tidak perlu repot lagi buat kirim uang ke kampung. Tidak butuh ke bank dan tidak usah membuat rekening.
Mamat pun akhirnya berkenalan dengan TrueMoney. Yakni sebuah sistem pembayaran elektronik yang mudah digunakan, pelayanannya cepat, dan pastinya aman karena setiap transaksi harus diverifikasi melalui PIN serta telah mendapatkan lisensi dari Bank Indonesia sebagai penyedia jasa pengiriman uang yang dapat dinikmati seluruh masyarakat Indonesia.

Untuk mengirimkan uang, Mamat cukup mendatangi Alfamart dan Alfamidi manapun. Setibanya di sana, lakukan 3 cara mudah kirim uang tanpa perlu pergi ke bank berikut ini.
1. Datang ke Alfamart/Alfamidi, lalu informasikan ke kasir bahwa Mamat ingin mengirim uang melalui TrueMoney.
2. Tunjukkan KTP/SIM/Paspor asli dan fotokopi yang masih berlaku, kemudian isi data diri di formulir yang tersedia dan bayar biaya pengiriman kepada kasir. Biaya pengiriman dikenakan sebesar:
  • Rp 15.000 untuk transaksi pengiriman uang antara Rp 20.000 – Rp 1.000.000.
  • Rp 25.000 untuk transaksi pengiriman uang antara Rp 1.000.001 – Rp 5.000.000.

3. Minta bukti transaksi berisi 10 digit kode MTCN yang dapat digunakan oleh ibu Mamat sebagai penerima ketika hendak mencairkan uang di Alfamart. Kode MTCN ini berlaku selama 30 hari loh.

Ah, betapa senangnya hati Mamat bisa menunjukkan baktinya pada sang ibu. Ia pun menelepon seorang tetangganya untuk membantu mbok e’ mengambil uang di Alfamart/Alfamidi terdekat. Berdasarkan penuturan kasir, pencairan uang dapat dilakukan dengan cara:
1. Mendatangi Alfamart/Alfamidi terdekat dan informasikan bahwa ibu ingin mencairkan uang melalui TrueMoney. Pencairan uang tidak dapat diwakilkan.
2. Tunjukkan kartu identitas yang masih berlaku dan kode MTCN yang disebutkan Mamat melalui telepon. Setelah itu, isi data diri pada formulir yang tersedia.
3. Uang pun bisa langsung diterima tanpa dipotong biaya administrasi.
Menariknya, ternyata Mamat juga baru tahu kalau TrueMoney masih punya layanan lain yang tak kalah berkesan. Selain pengiriman uang, TrueMoney juga menyediakan pembayaran tagihan PLN Paskabayar, BPJS, Telepion Rumah, PDAM, Telkom Vision, Telkom Speedy, dan pembayaran cicilan kredit. Mamat pun juga bisa melakukan isi ulang pulsa semua operator, paket data internet, token listrik, maupun voucher games. Semua dilakukan dalam satu aplikasi smartphone!
Nggak sia-sia Mamat memutuskan untuk kredit smartphone ke salah satu kenalannya, hehe.

Itu tadi cerita Mamat. Pemuda kampung yang berusaha berbakti pada sang ibu hingga akhirnya menemukan aplikasi yang dapat membantu kebutuhannya sehari-hari hanya dalam genggaman.
Mamat pekerja keras, baik hati, dan mau terus belajar.
Jadilah seperti Mamat.




Share:

Akankah Chatbot Membunuh Customer Service?



Era disrupsi menuntut kecepatan di bidang apa pun. Itulah mengapa, selama beberapa tahun terakhir, Chatbot mengalami perkembangan pesat sebagai asisten virtual berbentuk pesan instan yang berbasis pada kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Sejumlah perusahaan besar di dunia telah menggunakan inovasi teknologi ini untuk menyapa pelanggan secara cepat atau menjawab pertanyaan yang normatif dan repetitif.
Menurut Shep Hyken, Chief Amazement Officer di Shepard Presentations, setidaknya ada empat bukti bagaimana Chatbot memberikan dampak besar di dunia industri, yaitu:
1. Chatbot tidak pernah tidur
Customer service selalu berbicara mengenai kenyamanan pelanggan, yang tentu membutuhkan bantuan tanpa mempedulikan waktu. Di sinilah Chatbot membuktikan ketangguhannya yang mampu beroperasi dua puluh empat jam penuh. Melalui kecerdasan buatan, Chatbot dilatih untuk melakukan percakapan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar yang biasanya diajukan pelanggan.
2. Chatbot tidak akan membuat Anda menunggu
Nada tunggu adalah konsep yang membosankan dalam dunia customer service. Pelanggan selalu ingin keluhan mereka direspons dengan instan. Dengan Chatbot, pelanggan tidak perlu menunggu lagi. Chatbot bisa segera melayani mereka saat itu juga.
3. Chatbot menghimpun data kebutuhan pelanggan
Sebagai asisten virtual, Chatbot sanggup merekam pengalamannya ketika berinteraksi dengan pelanggan. Data yang masuk dapat digunakan untuk memberikan informasi dan solusi yang lebih akurat bagi pertanyaan-pertanyaan konsumen di kemudian hari.
4. Chatbot turut membangun pertemanan dengan pelanggan
Sebagian besar customer service berbasis manusia membutuhkan banyak waktu untuk menjalin komunikasi dan proaktif berinteraksi dengan para pelanggan. Chatbot hadir untuk membantu pekerjaan ini. Termasuk mengirimkan email sederhana berisi ucapan selamat ulang tahun atau menanyakan kesan pelanggan terhadap produk perusahaan. Terlebih, Chatbot tidak pernah mengalami hari yang buruk. Mereka tidak akan frustasi menghadapi berbagai macam tipe pelanggan.
Dengan beragam keunggulan tersebut, alhasil Chatbot mengancam keberadaan profesi customer service. Perusahaan tidak perlu menyewa banyak tenaga untuk mengisi posisi tersebut, yang pastinya berimbas pada penyusutan biaya operasional.
Namun, apakah Chatbot benar-benar sanggup “membunuh” profesi customer service?
Survei yang dilakukan oleh CGS (Computer Generated Solutions) pada tahun 2018 terhadap lebih dari 500 partisipan di Amerika Serikat dan Inggris menunjukkan bahwa ternyata masih banyak konsumen yang lebih memilih customer service berbasis manusia. Teknologi mungkin melompat jauh, tetapi bukan berarti konsumen rela mengorbankan kualitas demi kecepatan. Terutama ketika menghadapi masalah-masalah yang lebih kompleks.
“Saat datang masalah yang lebih kompleks dan bersifat teknis, konsumen lebih suka berbicara langsung dengan customer service (berbasis manusia). Alasannya, karena mereka dapat mudah bereaksi dan beradaptasi terhadap kompleksitas masalah konsumen. Sedangkan program AI hanya memuat informasi berdasarkan database mereka,” ujar Michael Mills, Wakil Presiden Senior dari Divisi Pusat Kontak CGS.
Di samping itu, apakah Chatbot bisa dengan mudah diakses oleh para disabilitas? Mampukah Chatbot memahami secara baik perkataan orang-orang yang sulit mendengar dan berbicara? Terlebih bagi konsumen di atas usia 65 tahun yang tidak terbiasa bersentuhan dengan teknologi terbaru.
Untuk sementara, Chatbot cocok untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan langsung. To the point. Misalnya, “hai, apakah barang ini ready?”, “posisi di mana?”, dan sebagainya. Chatbot masih kesulitan menjawab pertanyaan non-standar atau permasalahan yang kadang sulit dijelaskan oleh konsumen.
Bahkan, Mills berani mengatakan, Chatbot tidak akan bisa menggantikan peran manusia, selamanya!
Namun, pendapat Mills tersebut mungkin terbantahkan di tahun-tahun mendatang. Tidak ada yang dapat menerka betapa pesatnya kemajuan teknologi. Kekurangan Chatbot hari ini bukan mustahil diperbaiki sekaligus ditingkatkan performanya.
Sebaliknya, bagi para pekerja di bagian customer service, ada sebuah tugas besar menanti Anda. Jadilah seseorang yang bukan hanya mampu menjawab pertanyaan dan menanggapi keluhan konsumen, tetapi juga sanggup berempati terhadap permasalahan mereka. Emosi, itulah yang membedakan manusia dan robot. Apabila seorang customer service hanya mengandalkan textbook, maka kejatuhan era customer service berbasis manusia akan lebih cepat terjadi.

REFERENSI:


Share:

Jangan Bergantung pada Marketplace, Bangun Sendiri Website Anda



SARAH merupakan seorang mompreneur. Nafkah dari suami sebenarnya terbilang cukup. Tetapi ia memiliki banyak waktu luang di rumah. Anaknya pun baru satu, bayi lelaki imut yang ia urus bersama ibunya. Walau suami sanggup untuk setidaknya mengontrak, Sarah tetap memilih tinggal serumah dengan ibunya yang hidup seorang diri sejak suaminya meninggal beberapa tahun lalu.

Banyak sampah plastik menumpuk di area sekitar rumahnya. Melalui tangan terampilnya, Sarah berhasil menyulap sampah-sampah tersebut menjadi kerajinan unik. Di antaranya, tas belanja, pot bunga, hingga pajangan dinding.

Karena bekerja seorang diri, Sarah tidak memiliki tim yang bisa membantunya menjual produk-produk tersebut. Sejak setahun lalu, ia memutuskan memasarkan kerajinannya di sebuah marketplace ternama.

Perlahan tapi pasti, usahanya membuahkan hasil. Memasuki bulan ketiga, pesanan berdatangan. Bulan keenam, penjualannya meningkat. Dan di tahun pertamanya ini, terkadang Sarah sampai harus membatalkan pesanan karena khawatir tidak sanggup memenuhi target produksinya.

Semua berjalan indah, hingga seminggu lalu..

Sarah tersentak. Di marketplace tempat ia menjajakan kerajinannya, tampak sebuah brand besar menjual produk-produk yang hampir serupa dengan miliknya. Harganya? Jauh lebih murah.

Ia mulai kebingungan. "Kalau begini caranya, penjualanku bisa menurun drastis?" pikir Sarah.

Nyaris sepekan ini Sarah memikirkan jalan keluarnya, termasuk berdiskusi dengan suami.

***

Kisah di atas tentu saja fiktif. Namun, secara garis besar, Sarah ialah jelmaan banyak bisnis kecil di Indonesia. Menjamurkan marketplace membuat mereka seolah mendapatkan medium penjualan menjanjikan: gratis dan tanpa imbalan sama sekali.

Para pemilik bisnis tersebut mungkin lupa, bagaimana jika nanti marketplace tersebut tamat riwayatnya? Tidak ada yang tidak mungkin. Nokia saja bisa tumbang.

Lebih buruk lagi, bagaimana jika data produkmu, data pembeli, termasuk behavior mereka menjadi sekumpulan bahan yang kemudian dijual oleh pihak marketplace kepada sebuah brand besar untuk membuat produk yang sama, tetapi harganya lebih murah?

Pusing deh seperti Sarah.

Jangan selamanya bergantung pada marketplace. Ciptakan sendiri website Anda. Di dunia serba digital ini, setidaknya ada 4 alasan mengapa bisnis Anda membutuhkan website!

1. Kesempatan Mengedukasi Pelanggan

Hal ini merupakan salah satu fitur yang tidak disediakan oleh marketplace manapun. Mereka hanya menawarkan lapak berisi deskripsi produk dan fitur-fitur lain yang berguna bagi pengiriman barang.

Melalui website, Anda bisa menulis serangkaian artikel, menyisipkan video, hingga menaruh infografis yang semuanya berisi edukasi mengenai produk. Beri tahu pelanggan mengapa mereka membutuhkan Anda, apa manfaatnya bagi mereka, apa masalah mereka yang akhirnya bisa terselesaikan dengan produk atau jasa tersebut.

2. Ciptakan Pelanggan Loyal

Perang harga adalah sebuah keniscayaan di dalam marketplace. Produk Anda mungkin bagus, tetapi bila ada toko yang menjual produk serupa dengan harga lebih murah, pelanggan sangat mudah terbang ke lain hati.

Sebaliknya, edukasi yang Anda berikan melalui website, dengan sendirinya akan menciptakan pelanggan-pelanggan yang loyal. Yaitu mereka yang memang sangat tahu kualitas produk maupun pelayanan Anda. Orang-orang yang tidak mudah tergiur oleh harga yang murah.

Bahkan, mereka tidak segan membagikan info mengenai bisnis Anda kepada orang lain. Marketing yang gratis, kan?

Beruntungnya lagi, data pelanggan Anda tidak bisa dicuri pihak manapun. Anda bebas melakukan follow up kapanpun.

3. Membangun Brand Image

Brand bukanlah apa yang Anda katakan mengenai bisnis Anda. Melainkan apa yang orang lain katakan dan rasakan saat berinteraksi dengan bisnis Anda. Mulai dari saat mereka menggunakan produk atau jasa yang Anda tawarkan, mengetahui kualitas pelayanan selama mereka berbelanja, dan tentu saja penampilan Anda di dunia maya.

Sebuah website yang didesain sedemikian rupa sanggup menggambarkan value bisnis Anda. Dengan demikian, pelanggan memiliki ekspektasi yang sesuai: tidak terlalu berharap pada bisnis Anda, tetapi juga tidak memandang rendah.

Website yang cantik pun mampu menarik lebih banyak pelanggan. Sebagian besar masyarakat memiliki waktu yang relatif singkat untuk menentukan bagaimana mereka menilai bisnis Anda, dan itu biasanya melalui website. Itu pun kalau Anda punya.

4. Muncul di Halaman Satu Google

Baru-baru ini Google memperbarui algoritmanya. Salah satu dampaknya ialah tidak ada website manapun yang muncul tiga kali dalam satu halaman untuk keyword  yang sama.

Misalnya, produk Anda adalah buku, lalu seseorang mengetiknya di Google. Katakanlah sebuah marketplace memiliki banyak produk dengan kata kunci tersebut. Dahulu, mungkin marketplace tersebut akan merajai halaman satu hingga halaman sekian Google. Kini tidak lagi. Google hanya akan menampilkan maksimal dua produk dari satu marketplace, dalam satu halaman. Sisanya, dibagi-bagi dengan marketplace dan situs lain.

Tak ada cara lain, kecuali Anda harus membuat website sendiri agar memiliki peluang lebih banyak untuk muncul di page one Google.

***

"Tapi gue nggak bisa coding, Bro."

"Desain website yang bagus itu kaya gimana?"

"Cuma bikin web aja kan belum selesai, biar tampil di halaman satu Google juga butuh usaha. Gue nggak ngerti!"

Well, zaman semakin canggih dan hidup semakin mudah, kok. Nggak semua hal harus Anda kerjakan sendiri. Bagaimanapun, Superman bisa kalah sama Superteam.

Kalau nggak punya tim? Anda bisa memanfaatkan Jasa Pembuatan Website Berkualitas, contohnya GRAPIKU.

Grapiku punya 3 layanan unggulan yang bisa membantu mengembangkan bisnis Anda, yaitu:

1. Desain Branding. Mendesain cerita dan pengalaman Anda menjadi sebuah brand. Bisnis Anda pun jadi lebih berkarakter.

2. Desain Website. Jangkau lebih banyak orang dengan website  profesional. Selain desainnya yang kekinian, Grapiku juga berkomitmen untuk mengoptimasi brand Anda.

3. Desain Ilustrasi. Komunikasikan brand Anda kepada pelanggan melalui grafis ilustrasi menawan. Tidak hanya estetik, desain dari Grapiku pun fungsional dan adaptif di semua media.

***

Sudah siap membangun website bagi bisnis Anda?

Leland Dieno, dalam buku Face The Book with Your Small Business, pernah berpesan, "Your website is the center of your digital eco-system, like a brick and mortar location, the experience matters once a customer enters, just as much as the perception they have of you before they walk through the door."

Tidak peduli sekecil apa pun bisnis Anda, sebuah website ibarat pintu bagi pelanggan untuk memasuki bisnis Anda di dunia digital seperti sekarang ini. Ayo Go Online dengan Website!

[image: flickr/Patrik Nygren]
Share:

Mimpi Pemuda



Selain ilmu dan adab, barangkali yang menjadi masalah terbesar sebagian besar pemuda Islam hari ini ialah ketiadaan tujuan hidup. Kita jauh dari misi peradaban. Jangankan berupaya menjangkaunya, membayangkannya pun tidak.

Risalah Islam menghendaki setiap umatnya menjadi khalifah. Memakmurkan dan menyebar rahmat ke seantero bumi. Baik itu sebagai dokter, guru, pengacara, dan profesi lainnya. Umat di luar Islam mungkin bisa menjadi dokter yang baik, guru yang profesional, maupun pengacara yang andal. Tetapi peran sebagai penebar rahmatan lil 'alamin hanya dapat dipikul di atas pundak umat Islam.

"Dunia tidak merasakan kerugian atau kepedihan dengan kejatuhan satu umat. Begitu juga dengan kejatuhan satu kekuasaan yang bobrok bak kayu dimangsa rayap," tulis Abul Hasan Ali An-Nadwi dalam Kerugian Dunia Karena Kemunduran Umat Islam.

"Tetapi tidak demikian dengan kejatuhan kaum muslimin yang mengakibatkan lenyapnya kekuasaan dan kepemimpinan dari tangan mereka. Karena mereka ini adalah pemikul risalah para Nabi dan Rasul, maka keberadaan mereka bagi dunia adalah OBAT untuk menyembuhkan tubuh kemanusiaan.

"... Kejatuhan sebuah risalah adalah masalah yang amat besar, berat, dan penting karena risalah itu adalah ruhnya manusia. Runtuhnya sebuah risalah Islam dalam bentuk kepemimpinan berarti jatuh dan runtuhnya tiang tengah yang berdiri menyangga susunan agama dan dunia," tegasnya.
Share: