Nulis Suka-Suka

Mencari Kekuatan Terbaik di Dunia Paralel: Resensi Novel Ceros dan Batozar, Komet, Komet Minor



Di antara tokoh Harry Potter lainnya, mungkin Luna Lovegood adalah salah satu favorit saya. Dalam film, ia pernah bercakap dengan Harry, “Well, if I were You-Know-Who, I’d want to you to feel cut off from everyone else. Because if it’s just you alone, you’re not as much of a threat.”

Persahabatan barangkali tema yang sudah basi. Tapi tidak bagi Tere Liye. Melalui imajinasinya yang liar, ia mampu mengangkat tema klise ini dalam dunia fantasi yang penuh petualangan seru. Bahkan menjadikan “persahabatan” sebagai kunci pembuka pintu keluar bagi masalah-masalah yang dihadapi para tokohnya.

Inilah kisah tentang persahabatan itu. Tentang Raib, Seli, dan Ali. Tentang perjuangan yang mendekati titik akhir dalam novel Ceros dan Batozar, Komet, serta Komet Minor.

GAMBARAN CERITA

Ceros dan Batozar

Novel satu ini merupakan spin-off dari Serial Bumi. Berada di urutan 4.5, antara Bintang dan Komet. Di dalamnya terdapat dua cerita, yakni ketika Raib dan kawan-kawan berhadapan dengan sepasang Ceros (Badak) serta saat mereka diculik oleh Batozar.

Sepasang Ceros tersebut tak lain ialah Ngglanggeran dan Ngglanggeram, penduduk Klan Aldebaran. Mereka terkurung di bawah bangunan kuno Bor-O-Bdur. Bila malam tiba, keduanya akan berubah menjadi monster badak yang menghancurkan apa pun di sekelilingnya. Satu-satunya alat yang mampu mengontrol perubahan tersebut hanyalah Sarung Tangan Bumi milik Ali, atau lebih tepatnya kepunyaan mereka yang dicuri Si Tanpa Mahkota ribuan tahun lalu. Di akhir cerita, mereka memutuskan untuk tetap berada di perut bumi. Lantas mengembalikan sarung tangan itu ke Ali. Sebuah pengorbanan yang tulus.

Adapun Batozar Sang Pengintai adalah tahanan Klan Bulan yang kabur untuk menculik Raib. Sebagai seorang Putri Bulan, Raib sebenarnya memiliki kekuatan berbicara dengan alam hingga sanggup memutar kembali kenangan masa lalu. Batozar ingin sekali melihat wajah istri dan anaknya, yang ia hampir lupakan setelah 100 tahun lamanya. Sehabis kekuatan Raib tersebut berhasil dikeluarkan, Batozar kabur menggunakan teknologi portal cermin.

Si kembar Ngglanggeran dan Ngglanggeram serta Batozar akan muncul lagi dalam Komet Minor.

Komet

Berbeda dengan empat novel sebelumnya, novel kelima Serial Bumi ini tidak berlama-lama membuka cerita. Hanya dalam dua bab, Raib dan kawan-kawan segera diundang menuju Klan Matahari untuk menghadiri penutupan Festival Bunga Matahari. Tepat ketika bunga matahari pertama sedikit lagi mekar. Si Tanpa Mahkota beserta pasukannya diperkirakan akan memanfaatkan kekuatan bunga tersebut untuk membuka portal menuju Klan Komet.

Pertempuran besar meletus di tengah-tengah stadion Kota Ilios. Namun, Si Tanpa Mahkota berhasil melompat ke dalam portal. Sebelum portal tertutup rapat, Raib dan kawan-kawan menyusulnya.

Raib, Seli, dan Ali terjebak di gugusan pulau bernama Komet. Bersama Max Si Nahkoda, mereka bertualang dari Pulau Hari Senin hingga Pulau Hari Minggu. Setibanya di pulau terakhir, mereka diuji oleh Paman Kay dan Bibi Nay. Raib dan kawan-kawan pun berhasil masuk ke dalam portal menuju Komet Minor. Sayangnya, Max berkhianat.

Komet Minor

Max alias Si Tanpa Mahkota menahan Raib dan kawan-kawan untuk masuk menuju Klan Komet Minor. Saat itulah, Batozar muncul dari portal cermin. Seorang sekutu dan teman perjalanan yang cukup tangguh menandingi Si Tanpa Mahkota.

Berkeliling di Komet Minor, mereka berempat mengejar waktu demi mengumpulkan kepingan tombak pusaka. Mulai dari bertemu Tuan Entre, Arci, Lady Oopraah alias Kulture, hingga Finale. Pengorbanan dan perjuangan yang lebih berat terasa kental dalam novel ini.

Sanggupkah mereka mencegah Si Tanpa Mahkota memperoleh tombak pusaka tersebut dan menjadi petarung terkuat di dunia paralel?

KEUNIKAN KARAKTER

Tokoh utama dalam ketiga novel ini masih berpusat pada Raib, Seli, Ali, dan Si Tanpa Mahkota. Terdapat beberapa tambahan, semisal Ngglanggeran, Ngglanggeram, serta Batozar dalam Ceros dan Batozar, yang lalu muncul kembali dalam Komet Minor. Dalam Komet, pembaca bisa bertemu dengan Paman Kay dan Bibi Nay. Adapun Tuan Entre, Arci, Lady Oopraah alias Kulture, dan Finale menjadi tokoh kunci di novel terakhir.

Jangan lupakan juga cameo ST4R dan SP4RK yang berasal dari konstelasi Proxima Centauri. Nanti akan ada bukunya tersendiri, loh.

Uniknya, saya jadi berpikir, pemilihan nama-nama tokoh dalam serial ini seperti bukan kebetulan. Contohnya Raib, sesuai namanya, ia bisa menghilang. Seli biasanya dipakai sebagai bentuk pendek dari Selena yang bermakna seseorang berkepribadian menarik, sesuai karakter dalam novelnya yang selalu tampak ceria bahkan sering melakukan hal yang tak terduga. Ali yang punya pukulan beruang barangkali terinspirasi dari sosok legenda tinju M. Ali, sedangkan kepandaiannya mungkin diambil dari sahabat Rasul Ali bin Abi Thalib yang dijuluki gerbang ilmu pengetahuan.

Nama Entre bisa jadi dipilih karena pembuka bagi pencarian benda pusaka di Komet Minor. Arci menggambarkan kemampuan memanahnya, Kulture melukiskan profesinya sebagai budayawan dan ahli sejarah, serta Finale merupakan akhir dari pencarian benda pusaka sekaligus akhir dari perlawanan Si Tanpa Mahkota.

Sebagaimana biasanya, Tere Liye juga menghadirkan tokoh-tokoh bijak dalam novelnya. Bila sebelumnya kita berkenalan dengan Av atau Faar, kali ini ada Paman Kay dan Bibi Nay.

“...Aku juga bisa menghentikan banyak kerusakan di dunia sekarang juga, tapi membiarkan kalian belajar, tumbuh dengan hati yang jernih, akan membawa lebih banyak kebaikan bagi dunia paralel.” (Komet, hal. 365)

KEKUATAN RISET

“Karya fiksi yang kuat adalah yang didukung dengan riset mendalam,” ujar Bernard Batubara. Kekuatan riset sulit dihilangkan dalam banyak novel Tere Liye, sebut saja Tentang Kamu, Pulang, Pergi, dan masih banyak lagi. Melalui riset yang mendalam, pembaca benar-benar yakin bahwa Tere Liye sungguh mengetahui apa yang ia tulis, meskipun menggunakan jasa co-author.

Dalam Serial Bumi pun demikian. Salah satunya mengenai pemilihan nama yang sudah dibahas di atas. Selain itu, tampak juga dalam pemilihan kata-kata yang terlihat sepele. Contohnya, kata binjak yang berarti “kembar” menurut Klan Aldebaran. Aslinya, kata tersebut memang ada. Bahasa Albania yang berarti “kembar” pula.

“Kembar? Oh, maksud kalian binjak? Iya, kami memang kembar. Binjak.” Ngglanggeran tersenyum. (Ceros dan Batozar, hal. 67)

Gugusan bintang sebagai penunjuk arah, fenomena fisika, dan sejumlah fakta biologi tentu hasil lain dari riset yang kuat.

“Inilah pohon coco de mer. Spesies langka dari tumbuhan kelapa, tumbuh di Kepulauan Seychelles, Laut India. Tinggi pohonnya bisa mencapai 25-34 meter, dengan buah raksasa seberat 15-30 kilogram. Inilah buah dengan biji terbesar di seluruh bumi.” (Komet, hal. 15)

“...Kalian tahu burung albatros di dunia kita? Nah, burung itu bahkan terbang sambil tidur. Silakan cari tahu sendiri jika kalian tidak percaya...” (Komet Minor, hal. 48)

ULASAN ALUR

Seluruh novel Serial Bumi memiliki plot yang terus merangsek maju, tanpa menyediakan tempat sedikit pun pada kilas balik. Sudut pandangnya masih ada di tangan Raib. Walaupun memakai sudut pandang orang pertama, Raib sering tampak tahu segala hal. Di antaranya tinggi orang, lebar kapal, maupun jam berapa sekarang. Tetapi karena Tere Liye menampilkannya secara konsisten, kita bisa anggap itu sebagai gaya menulis beliau.

Di tiga novel ini juga unsur gimmick berupa komedi serta sedikit romance antara Raib dan Ali yang membuat cerita terasa lebih renyah.

Yang menarik, bagi saya, setiap novel seolah menonjolkan sisi-sisi lain dari Raib, Seli, maupun Ali.

Dalam cerita Ceros, karakter Ali ditampilkan cukup dominan. Terutama ketika ia meikhlaskan sarung tangannya bahkan rela menggantikan si kembar untuk terkurung di bawah Bor-O-Bdur.

Dalam cerita Batozar, Raib secara sabar meladeni Batozar hingga mengerahkan seluruh tenaga untuk mengeluarkan kekuatan tersembunyi yang dimilikinya.

Dalam cerita Komet, giliran Seli datang. Karakter yang tahan banting dan setia menemani kedua temannya. Ia sampai tidak makan demi menyuplai tenaga bagi Raib dan Ali saat mereka terjebak di tengah lautan menuju Pulau Hari Minggu.

Sementara itu, persahabatan mereka semakin diuji kala berada di Klan Komet Minor. Terlebih, ketika Seli hampir mati. Di situlah pengorbanan dan perjuangan menemukan titik klimaksnya.

Di samping itu semua, ada sebagian Plot Hole yang bikin saya sedikit kesal alias gregetan.

Pertama, ketika Ali naik ke atas panggung Lady Oopraah untuk berbicara mengenai keluarga sembari mengangkat kisah seorang anak yang lahir di tengah lautan, kemudian hidup bersama para pembantu dengan ilusi kedua orang tuanya bekerja di luar negeri. Apakah itu benar-benar kisah hidup Ali atau ia hanya mengada-ada? Saat Seli menanyakannya pun, Ali tidak ingin menjawabnya sambil memasang wajah ketus. Duh, penasaran, nih!

Belum lagi pengakuan Si Tanpa Mahkota bahwa Ali adalah keturunannya. Boleh nih kalau ada novel spin-off khusus buat Ali.

Kedua, orang tua kandung Raib yang belum terjawab hingga akhir novel. Saya kira teka-teki itu akan terkuak, tapi ternyata dibahas di novel selanjutnya, Nebula. Hfft, harus sabar nunggu lagi, deh!

ENDING KURANG NENDANG

Bagian ini yang membuat saya sedikit kurang puas. Saya membayangkan sebuah perang akbar terjadi di akhir novel. Ketika Si Tanpa Mahkota, Tamus, Fala-tara-tana IV beserta pasukannya melawan Raib dan kawan-kawan ditambah koalisi armada tempur tiga klan. Layaknya serangan besar-besaran yang dilancarkan sekutu Voldemort saat menyerang Hogwarts.

Sayangnya, ekspektasi saya tidak terwujud. Pertempuran semacam itu justru hanya terjadi sekilas, yaitu tatkala Si Tanpa Mahkota hendak membuka portal menuju Klan Komet.

Formasi Makhluk Cahaya juga ternyata tidak cukup kuat untuk menandingi Si Tanpa Mahkota. Saya kira, inilah jurus pamungkasnya. Terakhir, Si Tanpa Mahkota malah kalah karena kebodohannya. Memang sih, semua itu karena jasa kejeniusan Ali. Tapi, kekuatan persahabatan yang sering dikatakan sebagai kekuatan terhebat di dunia paralel, seolah menemukan titik anti-klimaks.

PERSAHABATAN DAN HARAPAN

Selain quote Luna Lovegood di awal tulisan ini, Dumbledore juga pernah berkata dalam Harry Potter and the Sorcerer’s Stone, “It takes a great deal of bravery to stand up to your enemies. But a great deal more to stand up to your friends.

Genre fantasi dengan nilai-nilai persahabatan hampir selalu laku di pasaran, meski tampak klise. Lihat saja serial Harry Potter, Hobbit, The Lord of The Ring, Maze Runner, atau Hunger Games. Film pun demikian. Tidak terkecuali komik atau anime Jepang semacam Naruto dan One Piece.

Di serial inilah, termasuk tiga novel yang tengah dibahas, nilai-nilai persahabatan tersebut bermekaran. Bak jamur di musim hujan. Saya juga suka bagaimana Tere Liye memilih tidak “mengakhiri hidup” Si Tanpa Mahkota. Ia kalah, justru oleh pemaafan dari Raib. Ibarat Talk no Jutsu Naruto yang hampir selalu berhasil menyelesaikan masalah-masalah besar, tanpa harus menghabisi musuhnya.

Bukankah banyak konflik di dunia ini yang sebenarnya bisa selesai karena komunikasi?

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, saya yakin para pembaca pasti ingin serial ini diangkat ke layar lebar. Harapannya Hollywood bisa ambil alih. Kalau diambil produser dalam negeri, khawatir kejadian dalam film Hafalan Shalat Delisa terulang. Tahu kan ya, bagaimana kualitas CGI dalam film tersebut?

Tidak perlu sebagus Harry Potter atau The Lord of The Ring, minimal efek-efek yang tersaji tidak merusak mata, hehe.

Dan...tolong dong seseorang membuat fan art Raib, Seli, dan Ali. Penasaran deh melihat wajah dan tubuh mereka kalau digambar akan bagaimana jadinya. Ada yang minat?

“...Ketahuilah, bukan teknik bertarung, bukan menghancurkan gunung-gunung kekuatan terbaik dunia paralel, melainkan persahabatan. Selalu berusaha menjadi orang yang baik dan berani.” (Ceros dan Batozar, hal. 124)


Judul: Ceros dan Batozar
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 376 halaman
Cetakan: I, Mei 2018
Nomor ISBN: 978-602-038-5914

Judul: Komet
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 384 halaman
Cetakan: I, Mei 2018
Nomor ISBN: 978-602-038-5938

Judul: Komet Minor
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 376 halaman
Cetakan: II, Maret 2019
Nomor ISBN: 978-602-062-3399


Share:

Dua Puluh Ribu Satu-satunya pun Melayang



Matahari sudah mengguyur sejak tadi. Meski masih terbilang pagi, tetapi teriknya cukup menyengat kulit. Hanya ada sedikit awan menggelantung di langit. Pagi yang normal di hari yang normal, setidaknya untuk sementara. Bagaimanapun panasnya, aku tetap harus berangkat. Cuacanya tentu lebih baik daripada harus menembus hujan deras.

Seperti biasa, Sabtu ini ekstrakurikuler Rohis memanggil. Rutinitas yang sulit ditinggalkan. Bahkan hari Ahad pun hampir selalu ada kegiatan.

Tidak lama keluar rumah, aku berdiri di pinggir jalan. Sejenak memeriksa dompet sembari menunggu angkutan umum. Hanya ada satu jenis angkutan umum di dekat rumah, angkot nomor 22 berwarna merah. Dari rumah sampai Terminal Pulogadung biasanya memakan tarif 4 ribu rupiah untuk pelajar. Asalkan memakai celana abu-abu panjang, itu sudah cukup menandakan aku anak SMA.

Sesaat kemudian angkot yang ditunggu datang, setelah aku sadar cuma ada satu lembar uang 20 ribu dan satu lembar uang 10 ribu di dompet. Kira-kira cukup untuk ongkos pergi-pulang dan makan siang.

Kalau bukan hari kerja, angkot yang kutumpangi biasanya sepi, sebagaimana hari ini. Hanya aku penumpangnya yang segera duduk di belakang sopir. Kursi di samping sopir sudah diisi seorang wanita muda, mungkin istrinya.

Angkot berjalan lamat sambil menunggu penumpang lain. Sebenarnya perjalanan kurang lebih hanya menghabiskan waktu tiga puluh menit, kalau saja angkot ini lebih cepat.

Bermenit-menit selanjutnya, masuklah empat orang anak muda. Tiga perempuan dan satu laki-laki yang cara bicaranya melambai. Dari postur dan wajahnya, mereka mungkin anak SMP. Berisik sekali di dalam angkot. Obrolannya alay, walaupun pakaian dan akseoris yang mereka kenakan ibarat anak orang kaya.

Kondisi di dalam angkot berlangsung demikian sampai kami tiba di Halte IGI Pulogadung. Tiba-tiba masuklah sekelompok pemuda. Auranya suram, bila kalian mengerti apa yang kumaksud. Satu orang duduk di depanku, di bangku kecil dekat pintu angkot. Satu orang lainnya duduk persis di pintu. Sedangkan ada dua orang lagi duduk mengampit keempat anak muda tadi.

Tidak perlu berpikir lama, segera kudekap tas di atas pangkuan. Mata fokus menatap ke arah depan angkot.

Suasana lengang. Terdengar bisik-bisik antara keempat anak muda itu dengan para pemuda yang baru masuk tadi.

“Bodoh!” pekikku dalam hati.

Andai saja aku tidak pengecut. Andai saja aku cukup punya keberanian untuk mengusir mereka. Sopir dan wanita di sampingnya pun masih sibuk mengobrol.

Tiba di depan Halte PTC (Pulogadung Trade Center), pemuda-pemuda tadi turun. Awalnya samar-samar, tetapi perlahan keempat anak muda itu menangis sesenggukkan.

“Kenapa, Dek?” sopir bertanya kaget.

“Dompet kita diambil,” salah satu dari mereka menjawab sambil terus mengeluarkan air mata.

“Jam tangan dia juga,” yang lain menyahut sambil menunjuk ke arah si lelaki.

Setibanya di Terminal Pulogadung, mereka bingung harus membayar pakai apa. Ingin membantu, tapi aku sedikit ragu. Uang pas-pasan. Setelah ini, aku harus menyambung angkot lagi menuju sekolah. Kalau satu orang dikenakan Rp 4 ribu, ditambah aku, maka totalnya Rp 20 ribu. Sopir angkot mungkin merasa iba, bisa saja ia menggratiskan mereka. Tapi, hati kecilku ingin membalas kebodohan tadi. Sedikit menutupi betapa pengecutnya aku tadi. Risikonya, barangkali aku tidak makan siang.

Tidak banyak waktu, aku wajib segera memutuskan!

“Yaudah, Bang. Pakai ini aja,” kataku seraya menyodorkan satu lembar dua puluh ribu kepada sopir.

Aku buru-buru melangkah turun. Satu per satu dari keempat anak muda tadi mengucapkan terima kasih.

“Iya,” aku menjawab singkat.

Hari yang sedikit tidak normal pun kembali normal. Matahari masih setia dengan teriknya. Namun, selama di sekolah hingga tiba di rumah lagi rasanya hati begitu adem. Aku tidak terlalu lama ingin mengingat kejadian tadi. Harapanku sederhana, agar mereka bisa pulang dengan selamat, mengambil pelajaran hari ini, serta menjadi anak-anak yang bisa menelurkan kebaikan.

Walaupun yang kuberi tidak seberapa, tetapi satu episode unik di dalam lembaran kehidupan ini sering menjadi pelecut. Di lain waktu ketika ada kesempatan berdonasi atau melihat orang lain membutuhkan, sedangkan uang di kantong terbatas, aku kerap memarahi diri sendiri, “Sejak kapan lo jadi pelit, Ry?” atau, “Sejak kapan lo jadi mikirin duit, Ry? Bertahun-tahun di Rohis masih ragu sama janji Allah?”

Episode ini juga barangkali yang akhirnya memperkenalkanku dengan berbagai lembaga filantropi kemanusiaan. Bayangkan tidak hanya empat anak muda itu, melainkan jutaan orang di pelosok Indonesia yang mengalami hal serupa bahkan lebih buruk lagi. Aku, kamu, dan kita semua bisa membantu menghadirkan senyum mereka kembali melalui Dompet Dhuafa.

Berbagi ke sesama jadi lebih mudah, bermanfaat, dan bermakna karena Dompet Dhuafa punya beragam layanan donasi, yaitu:
1. Kanal donasi online donasi.dompetdhuafa.org
2. Transfer bank
3. Counter
4. Cara visit (meninjau langsung lokasi program)
5. Tanya jawab zakat
6. Edukasi zakat
7. Laporan donasi

Jangan takut berbagi. Setiap rezeki kita telah dituliskan-Nya. Kita tidak akan dimatikan sampai jatah rezeki itu habis. Berbagi mungkin tidak membuat kaya, tetapi dijamin tidak akan menjatuhkan kita pada kemiskinan. Bila disertai niat ikhlas, insya Allah menjadi bukit pahala di akhirat kelak.

***
Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa.

Share:

Lebih Produktif sebagai Content Creator bersama ASUS VivoBook Pro F570



Pada tulisan sebelumnya, di blog ini, aku telah bercerita mengenai berbagai kejutan yang datang di awal tahun 2019. Mulai dari bergabung bersama lembaga filantropi Happy Quran, merintis Rumah Quran Pelajar, dan sebagainya. Pekerjaan aku sekarang lebih banyak berada di depan layar, baik layar laptop maupun smartphone. Alhasil, menjadi seorang content creator adalah sebuah keniscayaan. Naik level dari sekadar narablog.
Belakangan, aku juga memperbarui informasi mengenai dunia digital dan era Revolusi Industri 4.0 yang tengah berjalan. Profesi content creator sepertinya memang banyak dicari orang pada masa ini. Hai, sesama content creator! Aku izin memasuki dunia kalian, ya.
Project yang sedang kukerjakan. Ada yang lain sih, tapi dua ini yang prioritas.
Pekerjaan baru, level baru, pastinya juga membutuhkan tools baru. Tidak terkecuali laptop. Yang aku pakai sekarang sering bikin elus dada. Tampilan sederhana, RAM kecil, dan lemot. Buka Google Chrome, Photoshop, dan Microsoft Office dalam waktu bersamaan, dijamin hang. Apalagi untuk editing video, #inposebel alias impossible.
Kira-kira laptop semacam apa ya yang cocok buat para content creator? Pilihanku akhirnya jatuh pada inovasi terbaru dari ASUS, yakni VivoBook Pro F570.
Kenapa aku memilih varian teranyar dari ASUS ini? Yuk, kita kulik.

1. Performa Tinggi demi Menunjang Produktivitas
sumber: asus.com
Kamu tahu prosesor AMD Ryzen 5 Mobile atau Ryzen 7 Mobile? Andalan AMD tersebut pernah menggemparkan pasar prosesor desktop beberapa tahun sebelumnya, loh. Performa menakjubkannya kini bisa dirasakan dalam ASUS VivoBook Pro F570.
Terlebih, laptop ini juga dilengkapi kartu grafis GeForce GTX 1050. Graphic card besutan NVIDIA tersebut menghadirkan visual tanpa cela dan penghematan daya yang lebih baik dibanding kartu grafis generasi sebelumnya. Buat gaming dan streaming film 4K aja cocok, apalagi untuk membuat konten dari banyak aplikasi.
Well, jadilah ASUS VivoBook Pro F570 sebagai laptop pertama yang memadukan prosesor AMD dan kartu grafis NVIDIA.
Di samping itu, ASUS VivoBook Pro F570 sudah preinstall Windows ori, juga didukung Wi-Fi 802.11ac yang menyajikan konektivitas ultra-cepat. Cari bahan di internet, lalu mengerjakannya di berbagai aplikasi, tidak perlu ragu lagi, deh.

2. Nyaman Buat Dibawa Nongkrong di Kafe
sumber: netans.com
Sebagaimana anak milenial lainnya, terkadang aku suka mampir di tempat ngopi atau rumah makan. Bukan sekadar menyicipi sajian menunya, melainkan untuk mencari inspirasi sambil mengerjakan konten. Sayangnya, kalau laptop tidak mendukung, tidak bisa berlama-lama di sana.
Kabar baiknya, ASUS VivoBook Pro F570 ternyata punya 3 baterai lithium-ion yang berarti 3 kali lebih tahan lama. Pengisiannya pun cepat banget, cuma butuh 49 menit untuk diisi sampai 60%. Menariknya lagi, laptop ini memakai teknologi ASUS IceCool. Yaitu kontrol kipas cerdas dan pipa panas tipis yang menciptakan sistem pendinginan efisien. Suhu laptop terjaga di bawah 36 derajat Celcius, lebih rendah dari suhu tubuh.
Kalau begitu kan, bisa nongkrong lama di kafe. Menikmati kesendirian dan ketenangan seraya berkutat dengan pekerjaan. Maklum, orang intovert ya begini, dah.

3. Memanjakan Mata dan Telinga
sumber: lupadaratan.com
Aku sih bukan gamer. Tapi kalau pikiran suntuk, mending dibawa main PES (Pro Evolution Soccer). Terkadang juga menonton film atau anime sebagai hiburan di sela rutinitas. Biar nggak monoton, aku sering bekerja sambil mendengarkan musik. Contohnya, artikel ini aku tulis bersamaan dengan menyetel kompilasi RPG theme dari YouTube.
Dengan kebiasaan tersebut, rasanya ASUS VivoBook Pro F570 memang tepat untuk mendukung aktivitasku.
F570 dimodali layar 15,6 inci yang memanjakan visual karena mampu menampilkan resolusi FullHD berasio 16:9 dengan resolusi 1920x1080 pixel. Warna yang dihasilkan lebih kaya, lebih dalam, dan lebih akurat. Mati lampu? Jangan khawatir, ASUS menyediakan fitur backlit pada keyboard. Terus bekerja tanpa halangan apa pun.
Terdapat pula 4 mode tampilan layar yang dapat dipilih melalui fitur ASUS Splendid. Kualitas gambar pun lebih sempurna berkat ASUS Tru2Life Video yang sanggup meningkatkan ketajaman dan kontras hingga 150 persen.
Semua fasilitas tersebut tidak membuat mata rusak, loh. Sebab fitur ASUS Eye Care Technology bisa mereduksi pancaran sinar warna biru hingga 33 persen.
Untuk urusan audio, teknologi ASUS SonicMaster akan membawa pada pengalaman menyecap suara yang lebih jernih. Selain itu, fitur yang dikembangkan oleh ASUS Golden Ear ini memungkinkan terdengarnya vokal yang lebih jelas dan suara bass lebih dalam.

4. Menjawab Segala Kemungkinan Tak Terbatas
sumber: asus.com
Mengapa aku bilang demikian? Karena biasanya kalau kita bekerja menggunakan laptop, ada saja masalah dadakan yang muncul. Permisalan paling buruk, laptop tahu-tahu hilang. Persoalan keamanan semacam itu telah ditangani dengan hadirnya fingerprint sensor pada ASUS VivoBook Pro F570. Sensor sidik jari tersebut terhubung dengan Windows Hello, sehingga memudahkan login ke Windows hanya dengan sentuhan jari.
Konektivitas dengan perangkat lain pun terjaga. Setidaknya terdapat port USB-C revolusioner yang menyediakan fitur transfer data super cepat, terdiri dari satu port USB 3.0, dua port USB 2.0 standar, dan HDMI.

5. Gaya Sporty khas Anak Muda
sumber: epiclopedia.id
Bukan hanya kualitas, biasanya anak muda seperti aku, memilih produk berdasarkan tampilannya pula. Itulah yang dimiliki ASUS VivoBook Pro F570.
Warna Reaper Black dengan brush finish sebagai dasarnya terlihat sporty dan kekinian. Itu pun masih diakomodasi oleh bagian tepi dan logo yang diberi warna Lightning Blue. Tidak cukup sampai di situ, laptop ini didesain sangat tipis dan ringan. Beratnya cuma 1.9 kg dengan ketebalan 21.9 mm. Buat aku yang sering membawa laptop ke mana-mana, ASUS terbaru yang eye catching ini tentu sangat memudahkan pekerjaan.
Setelah memperhatikan detail spesifikasinya, aku semakin yakin ASUS VivoBook Pro F570 memang pilihan tepat bagi para content creator. Untuk membelinya, ternyata cukup mudah. ASUS VivoBook Pro F570 Ryzen 7 juga dijual eksklusif di JD.ID, melalui mobile site di  https://m.jd.id/camp/asus-f570zd-r7591t-316210179.html atau desktop site di https://www.jd.id/campaign/asus-f570zd-r7591t-3162.html.
Ulasan mengenai ASUS VivoBook Pro F570 bisa kamu lihat salah satunya di sini:

Sedangkan untuk rincian spesifikasinya, silakan cek pada gambar di bawah ini, ya:




Share:

Jadi Narablog: Kecintaan pada Menulis, Modal Nekat, hingga Jalan Menjemput Rezeki





Saya dan Menulis

Kata seorang senior yang lulusan S1 psikologi, mengenal passion itu ada banyak cara. Salah satu yang termudah ialah melihat kebiasaan kita di lima sampai sepuluh tahun silam. Mana aktivitas yang sanggup kita kerjakan selama berjam-jam, bahkan sampai lupa waktu. Kita menikmati itu, meski tanpa dibayar serupiah pun. Tentu tidur tidak termasuk, ya.

Apabila benar demikian, sepertinya saya tidak terlalu heran jikalau hari ini menulis telah menjadi bagian yang sulit terpisahkan. Saya suka sekali membaca cerita sejak SD. Tiap awal semester, biasanya sekolah membagikan buku paket Bahasa Indonesia. Saat itu, saya lekas mencari cerita-cerita yang tertuang dalam buku. Contohnya, kisah kancil dengan beragam versi, dongeng, maupun cerita rakyat. Seluruh cerita selesai disantap dalam satu hari. Di perpustakaan sekolah pun sama, buku yang saya cari sebagian besar berisi cerita—di samping pengetahuan unik dan buku peribahasa.

Kebiasaan itu terus berlanjut di bangku SMP. Bedanya, saya juga perlahan menggemari puisi. Tapi, aksesnya belum banyak. Lagi-lagi saya hanya mengandalkan buku paket Bahasa Indonesia. Di antara puisi favorit saya kala itu adalah karangan sang maestro Sapardi Djoko Darmono:


aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan kata yang tak sempat diucapkan,
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Bersamaan dengan hal tersebut, saya pun perlahan menulis puisi. Jangan berekspektasi tinggi, ya. Puisi-puisi saya mungkin lebih cocok disebut kegalauan bocah SMP. Lucu juga kalau ingat masa-masa itu. But, the first of everything is shit, right?

Yang menarik, pernah ada seorang teman perempuan sekelas mengajak saya berbalas puisi. Dia menulis puisi, kirimkan kepada saya, kemudian saya balas dengan puisi lain. Begitu seterusnya selama beberapa bulan. Seingat dan setahu saya, tidak ada satu pun orang lain yang mengetahui kegiatan kami ini. Jumlah puisinya lumayan banyak, mungkin cukup untuk dibukukan. Sayang, ketika saya pindah rumah, kumpulan puisi itu hilang. Lebih tepatnya saya lupa, siapa di antara kami yang menyimpannya. Selepas lulus SMP, kami tidak menjalin kontak lagi.

Selama SMK, saya mulai jarang menulis puisi. Entahlah, mungkin karena kesibukan akademis dan organisasi. Tetapi, hasrat untuk menulis itu tetap menggebu, baik puisi atau artikel biasa. Selaras dengan semakin banyaknya buku yang saya lahap dari perpustakaan masjid sekolah.

“Seru kali ya, menjadi penulis yang sanggup mengubah pikiran banyak orang,” sebait angan melintas.


Blog dan Saya

Pertama kali bikin blog sekitar tahun 2013. Di tengah kesibukan PKL (Praktik Kerja Lapangan) selama satu tahun penuh. Maklum, saya bersekolah di SMK khusus program empat tahun. Saat itu modal nekat saja, tanpa mengetahui sama sekali tentang dunia blog. Saya sekadar butuh media untuk menyalurkan hobi menulis, sembari perlahan meniti jalan kepenulisan. Nama blognya setiawanhary.blogspot.com. Seluruh pengaturan, desain, dan detail kecil lainnya, dikerjakan sendiri. Hingga setahun kemudian saya baru sadar ternyata wordpress lebih user friendly, haha.

Banyak hal saya ceburkan ke dalam blog. Sebagian besar berupa tulisan opini dan essai. Saya bukan tipe orang yang mudah curhat atau menulis cerita keseharian. Well, sebenarnya blog tersebut mirip gado-gado sih: isinya campur. Sinopsis buku yang menjadi dagangan juga dimasukkan. Nggak ada bagusnya deh blog yang itu.

Ini sih salah satu kebiasaan buruk saya. Modal nekat, belajarnya paralel. Nanti setelah belajar, inginnya memulai semuanya dari nol. Capek merapikan yang terlanjut ribet, mending bikin baru. Jangan diikuti ya yang begini.

Dua tahun berikutnya, saya mulai beralih menulis di blog.setiabuku.com. Blog yang berfungsi menjaga rating domain toko online saya di google. Walaupun akhirnya situs tersebut hanya berisi artikel, tokonya sendiri nggak aktif, hehe.

Oktober 2018 lalu, kedua blog di atas resmi dinon-aktifkan. Sebagai gantinya, saya meretas blog pribadi—kali ini lebih rapi—dengan nama coretcoretawan.blogspot.com. Tulisan-tulisan lama yang masih layak, saya tuang kembali. Di blog tersebut, saya juga membiasakan menulis cerita pengalaman keseharian. Mungkin bahasa pemasarannya, saya ingin membangun branding diri melalui blog baru itu.

Saya bersama Blog

Dibandingkan bangga, barangkali saya lebih suka menyebut bersyukur karena telah menjadi narablog. Saya latihan menulis di situ. Saya mencurahkan isi benak di situ. Saya juga menjemput rezeki salah satunya dari situ. Rezeki yang dimaksud bisa dalam arti banyak hal. Akal yang tetap waras dan hati yang tenang karena aktivitas menulis adalah bagian dari rezeki. Gajian juga pastinya rezeki.

Karena dikenal sering menulis, seorang kakak kelas hingga kini mempercayakan job nulis freelance kalau ia sedang overload. Hasilnya lumayan untuk membiayai kuliah. Di samping itu, secara tidak langsung saya juga memperoleh banyak ilmu mengenai dunia digital wiriting. Gratis..tis..tis..

Dari blog, saya pun berhasil menyabet sejumlah penghargaan. Di antaranya, Juara 3 Lomba Resensi Novel “Pulang” dari Republika (2016), Resensi Pilihan 1 Lomba Resensi Novel “Maneken” dari Republika (2016), dan Juara 1 Lomba Resensi Novel “Pergi” dari Republika (2018).

fb.com/bukurepublika
fb.com/bukurepublika

Sejak pertama kali jadi blogger hingga sekarang, banyak kejutan saya peroleh. Begitu pula kesempatan berkecimpung di dunia digital writing. Nulis buku? Ingin sih, tapi sekadar aktualisasi diri saja, bukan sebagai mata pencaharian. Belum ada target ke sana juga sepertinya. Tahun 2019 ini, harapan tertinggi saya semoga tetap bisa menginspirasi—sebagaimana tujuan awal saya menulis. Istiqamah menabur kebajikan, di saat sebagian orang dengan berani dan lantang memasarkan keburukan melalui jemari mereka.

Banyak prestasi yang saya ingin kejar pula. Dalam hal ini, saya iri betul pada Pak Nodi yang dalam dua tahun jadi blogger telah menjuari puluhan penghargaan. Boleh iri kan, ya? Hehe. Lah, saya kurang lebih lima tahun ngeblog, produktivitasnya minim banget. Ini persoalan besar, mudah-mudahan bisa diperbaiki di tahun ini. Mohon doa dan dukungannya.


Share:

Menjemput Rezeki di Awal Tahun 2019



Well, mungkin ini curhatan pertama yang aku tulis di blog. Alias tulisan yang lebih santai dibandingkan tema-tema berat yang biasanya kusajikan. Alhamdulillah awal tahun 2019 ini banyak hal terjadi. Satu per satu pintu rezeki seolah Allah buka. Nilainya sih nggak sampai 80 juta. But, I think it's worth for my future. I hope.

Dimulai dari awal Desember, tepatnya ketika hunting buku di event Out of the Boox-nya Mizan di Lebak Bulus. Bi idznillah, ketemu buku My Hobby My Business: Kafe Buku karangan Gunawan Ardiyanto. Isinya sih nampak masih "kulit", tapi sepertinya cukup bagi aku untuk mengenal dunia kafe. Saat itu, pikiranku juga tengah terbang dari satu pohon ide ke pohon ide lainnya. Sudah hampir 5 tahun berbisnis buku, kok nggak ada perubahan, ya? Apa yang mesti aku lakukan atau bikin di tahun besok?

Kafe bertema buku jawabannya.

Sebenarnya, ini baru lintasan pikiran, sampai beberapa hari kemudian aku baca status Whatsapp seorang teman. Winda namanya, dia bilang juga mau bikin kafe buku. Ah, ini kesempatan, pikirku. Doi anak FLP Jakarta, lebih paham dunia menulis dan perbukuan. Mulailah kami mengobrol sejenak, sedikit berseloroh mengajak kolaborasi. Done! Tapi belum ada tindak lanjut.

Tak lama, seorang teman lain membuat status Whatsapp, "#2019BikinKafe". Doi yang biasa aku panggil Bang Rohmat jelas lebih pandai soal manajemen. Sebelum aku japri ajak kolaborasi, ternyata dia juga sudah menghubungi Winda. Yeah, kita bertiga juga saling kenal, sih.

Jadilah bikin kopdar pertama di Upnormal Rawamangun. Saling diskusi menawarkan konsep dan membeberkan motivasi mengapa memilih kafe buku. Dari meet up itu, kami sepakat bertemu lagi akhir Januari nanti. Dalam waktu sebulan, ada beberapa pekerjaan rumah yang mesti dituntaskan. Salah satunya survei ke kafe buku yang ada di Jakarta. Bismillah..

Di waktu yang hampir berbarengan, pengajian pekanan yang biasa aku ikuti juga ketiban proyek besar. Proyek ini sebenarnya program salah satu organisasi yang aku pegang. Karena nggak ada yang mengurus, awalnya aku pengin jorokin Rizki, teman dekat yang juga berprofesi sebagai pengajar Al-Qur'an. Doi mengiyakan dengan syarat kelompok pengajian jadi rekan setimnya. Oke, deal!


Dan terbentuklah RUMAH QUR'AN PELAJAR (RQP).

Prosesnya sangat cepat, kalau nggak mau disebut ngebut. Dalam beberapa hari, tutor kami memandu raker, menyiapkan segala printilan, dan menyusun program. Termasuk bersiap mengadakan acara Pelatihan Guru Qur'an. Target peserta 50 orang, dikerjakan kurang dari dua pekan.

Dari perjalanan ini, yang menarik bagi aku, ketika tiba-tiba jumlah peserta membludak hingga dua kali lipat. Ya siapa sih yang nggak mau ikut pelatihan micro teaching, diisi Ust. Efendi Anwar yang mengasuh Lembaga Tahfizh Utsmani, dapat makan siang, diberi sertifikat, serta hanya dibebankan infak 50 ribu rupiah. Kewalahan? Pasti. Alhamdulillah semuanya masih terkontrol. Lucunya lagi, sampai H-1 kursi untuk acara ternyata belum disiapkan. Panik sih sebentar, namun terselesaikan juga perlahan.

Memang ada sejumlah kendala teknis ketika acara. Biasa. Di luar itu, pendirian RQP terasa lancar, cepat, mulus, hampir tak ada hambatan. Kata orang, segala sesuatu seperti begitu siklusnya. Mula-mula tampak untung demi menggemberikan pemula dan memberinya motivasi lebih. Di pertengahan, mendadak semua hal tak sesuai rencana untuk menguji kesungguhan pelaku. Entahlah, aku lebih suka menyebut ini: "Berkah Al-Qur'an".

Kemudian, di pertengahan Januari ini, milestone baru datang. Kali ini dari seorang alumni senior. Saking seniornya, beliau sudah masuk STM, sedangkan saya masih kelas 1 SD. Saya memanggilnya Mba Azizah.

Dari senior lainnya, Mba Azizah mendapatkan kontak aku untuk diminta menjadi timnya mengurus sebuah lembaga filantropi. Digaji profesional untuk mengisi konten fundraising. Namanya Happy Qur'an, program rintisan baru. Kami bertiga, termasuk bos beliau yang bernama Pak Erwin, sepakat bertemu besoknya. Ba'da zuhur di Kokas.

Pada kesempatan itu, Pak Erwin menjelaskan apa dan ke mana arah Happy Qur'an ini. Sepanjang pembicaraan, bagi aku sebetulnya program ini masih belum jelas. Wajar sih, karena kami memang harus bertemu lagi dengan si empunya ide. Ibu Fida, emaknya Zaskia Adya Mecca. Wow banget!


Selang tiga hari kemudian, kami berempat meeting di Meccanism Kemang. Saya juga mengajak seorang teman dekat, Bang Imron, untuk menjadi bagian dari tim. Saya mengurus konten, doi bagian desain.

Aaaarrgh, belum genap 20 hari di tahun 2019, banyak banget yang Allah berikan. Satu per satu proyek berdatangan. Milestone yang siap mengantarkan ke puncak tertentu. Mengulas semuanya dalam blog ini mungkin adalah bagian dari suka cita. Aku tak pandai mengungkapkannya kepada orang lain, hanya tulisan yang kuanggap media terbaik. Walau sebetulnya aku juga bingung mendeskripsikan rasa syukur ini.

Penasaran, kejutan-kejutan apa lagi yang mau Allah kasih. Bukan geer, hanya optimis. Well, bertambah satu proyek berarti tambah lagi satu amanah baru yang mesti dipertanggungjawabkan. Mudah-mudahan Allah kuatkan juga pundakku dan semoga bisa melalui tahun ini dengan banyak karya. Kali aja juga bisa nikah di tahun 2019, #eh.
Share: