Nulis Suka-Suka

Lebih Produktif sebagai Content Creator bersama ASUS VivoBook Pro F570



Pada tulisan sebelumnya, di blog ini, aku telah bercerita mengenai berbagai kejutan yang datang di awal tahun 2019. Mulai dari bergabung bersama lembaga filantropi Happy Quran, merintis Rumah Quran Pelajar, dan sebagainya. Pekerjaan aku sekarang lebih banyak berada di depan layar, baik layar laptop maupun smartphone. Alhasil, menjadi seorang content creator adalah sebuah keniscayaan. Naik level dari sekadar narablog.
Belakangan, aku juga memperbarui informasi mengenai dunia digital dan era Revolusi Industri 4.0 yang tengah berjalan. Profesi content creator sepertinya memang banyak dicari orang pada masa ini. Hai, sesama content creator! Aku izin memasuki dunia kalian, ya.
Project yang sedang kukerjakan. Ada yang lain sih, tapi dua ini yang prioritas.
Pekerjaan baru, level baru, pastinya juga membutuhkan tools baru. Tidak terkecuali laptop. Yang aku pakai sekarang sering bikin elus dada. Tampilan sederhana, RAM kecil, dan lemot. Buka Google Chrome, Photoshop, dan Microsoft Office dalam waktu bersamaan, dijamin hang. Apalagi untuk editing video, #inposebel alias impossible.
Kira-kira laptop semacam apa ya yang cocok buat para content creator? Pilihanku akhirnya jatuh pada inovasi terbaru dari ASUS, yakni VivoBook Pro F570.
Kenapa aku memilih varian teranyar dari ASUS ini? Yuk, kita kulik.

1. Performa Tinggi demi Menunjang Produktivitas
sumber: asus.com
Kamu tahu prosesor AMD Ryzen 5 Mobile atau Ryzen 7 Mobile? Andalan AMD tersebut pernah menggemparkan pasar prosesor desktop beberapa tahun sebelumnya, loh. Performa menakjubkannya kini bisa dirasakan dalam ASUS VivoBook Pro F570.
Terlebih, laptop ini juga dilengkapi kartu grafis GeForce GTX 1050. Graphic card besutan NVIDIA tersebut menghadirkan visual tanpa cela dan penghematan daya yang lebih baik dibanding kartu grafis generasi sebelumnya. Buat gaming dan streaming film 4K aja cocok, apalagi untuk membuat konten dari banyak aplikasi.
Well, jadilah ASUS VivoBook Pro F570 sebagai laptop pertama yang memadukan prosesor AMD dan kartu grafis NVIDIA.
Di samping itu, ASUS VivoBook Pro F570 sudah preinstall Windows ori, juga didukung Wi-Fi 802.11ac yang menyajikan konektivitas ultra-cepat. Cari bahan di internet, lalu mengerjakannya di berbagai aplikasi, tidak perlu ragu lagi, deh.

2. Nyaman Buat Dibawa Nongkrong di Kafe
sumber: netans.com
Sebagaimana anak milenial lainnya, terkadang aku suka mampir di tempat ngopi atau rumah makan. Bukan sekadar menyicipi sajian menunya, melainkan untuk mencari inspirasi sambil mengerjakan konten. Sayangnya, kalau laptop tidak mendukung, tidak bisa berlama-lama di sana.
Kabar baiknya, ASUS VivoBook Pro F570 ternyata punya 3 baterai lithium-ion yang berarti 3 kali lebih tahan lama. Pengisiannya pun cepat banget, cuma butuh 49 menit untuk diisi sampai 60%. Menariknya lagi, laptop ini memakai teknologi ASUS IceCool. Yaitu kontrol kipas cerdas dan pipa panas tipis yang menciptakan sistem pendinginan efisien. Suhu laptop terjaga di bawah 36 derajat Celcius, lebih rendah dari suhu tubuh.
Kalau begitu kan, bisa nongkrong lama di kafe. Menikmati kesendirian dan ketenangan seraya berkutat dengan pekerjaan. Maklum, orang intovert ya begini, dah.

3. Memanjakan Mata dan Telinga
sumber: lupadaratan.com
Aku sih bukan gamer. Tapi kalau pikiran suntuk, mending dibawa main PES (Pro Evolution Soccer). Terkadang juga menonton film atau anime sebagai hiburan di sela rutinitas. Biar nggak monoton, aku sering bekerja sambil mendengarkan musik. Contohnya, artikel ini aku tulis bersamaan dengan menyetel kompilasi RPG theme dari YouTube.
Dengan kebiasaan tersebut, rasanya ASUS VivoBook Pro F570 memang tepat untuk mendukung aktivitasku.
F570 dimodali layar 15,6 inci yang memanjakan visual karena mampu menampilkan resolusi FullHD berasio 16:9 dengan resolusi 1920x1080 pixel. Warna yang dihasilkan lebih kaya, lebih dalam, dan lebih akurat. Mati lampu? Jangan khawatir, ASUS menyediakan fitur backlit pada keyboard. Terus bekerja tanpa halangan apa pun.
Terdapat pula 4 mode tampilan layar yang dapat dipilih melalui fitur ASUS Splendid. Kualitas gambar pun lebih sempurna berkat ASUS Tru2Life Video yang sanggup meningkatkan ketajaman dan kontras hingga 150 persen.
Semua fasilitas tersebut tidak membuat mata rusak, loh. Sebab fitur ASUS Eye Care Technology bisa mereduksi pancaran sinar warna biru hingga 33 persen.
Untuk urusan audio, teknologi ASUS SonicMaster akan membawa pada pengalaman menyecap suara yang lebih jernih. Selain itu, fitur yang dikembangkan oleh ASUS Golden Ear ini memungkinkan terdengarnya vokal yang lebih jelas dan suara bass lebih dalam.

4. Menjawab Segala Kemungkinan Tak Terbatas
sumber: asus.com
Mengapa aku bilang demikian? Karena biasanya kalau kita bekerja menggunakan laptop, ada saja masalah dadakan yang muncul. Permisalan paling buruk, laptop tahu-tahu hilang. Persoalan keamanan semacam itu telah ditangani dengan hadirnya fingerprint sensor pada ASUS VivoBook Pro F570. Sensor sidik jari tersebut terhubung dengan Windows Hello, sehingga memudahkan login ke Windows hanya dengan sentuhan jari.
Konektivitas dengan perangkat lain pun terjaga. Setidaknya terdapat port USB-C revolusioner yang menyediakan fitur transfer data super cepat, terdiri dari satu port USB 3.0, dua port USB 2.0 standar, dan HDMI.

5. Gaya Sporty khas Anak Muda
sumber: epiclopedia.id
Bukan hanya kualitas, biasanya anak muda seperti aku, memilih produk berdasarkan tampilannya pula. Itulah yang dimiliki ASUS VivoBook Pro F570.
Warna Reaper Black dengan brush finish sebagai dasarnya terlihat sporty dan kekinian. Itu pun masih diakomodasi oleh bagian tepi dan logo yang diberi warna Lightning Blue. Tidak cukup sampai di situ, laptop ini didesain sangat tipis dan ringan. Beratnya cuma 1.9 kg dengan ketebalan 21.9 mm. Buat aku yang sering membawa laptop ke mana-mana, ASUS terbaru yang eye catching ini tentu sangat memudahkan pekerjaan.
Setelah memperhatikan detail spesifikasinya, aku semakin yakin ASUS VivoBook Pro F570 memang pilihan tepat bagi para content creator. Untuk membelinya, ternyata cukup mudah. ASUS VivoBook Pro F570 Ryzen 7 juga dijual eksklusif di JD.ID, melalui mobile site di  https://m.jd.id/camp/asus-f570zd-r7591t-316210179.html atau desktop site di https://www.jd.id/campaign/asus-f570zd-r7591t-3162.html.
Ulasan mengenai ASUS VivoBook Pro F570 bisa kamu lihat salah satunya di sini:

Sedangkan untuk rincian spesifikasinya, silakan cek pada gambar di bawah ini, ya:




Share:

Jadi Narablog: Kecintaan pada Menulis, Modal Nekat, hingga Jalan Menjemput Rezeki





Saya dan Menulis

Kata seorang senior yang lulusan S1 psikologi, mengenal passion itu ada banyak cara. Salah satu yang termudah ialah melihat kebiasaan kita di lima sampai sepuluh tahun silam. Mana aktivitas yang sanggup kita kerjakan selama berjam-jam, bahkan sampai lupa waktu. Kita menikmati itu, meski tanpa dibayar serupiah pun. Tentu tidur tidak termasuk, ya.

Apabila benar demikian, sepertinya saya tidak terlalu heran jikalau hari ini menulis telah menjadi bagian yang sulit terpisahkan. Saya suka sekali membaca cerita sejak SD. Tiap awal semester, biasanya sekolah membagikan buku paket Bahasa Indonesia. Saat itu, saya lekas mencari cerita-cerita yang tertuang dalam buku. Contohnya, kisah kancil dengan beragam versi, dongeng, maupun cerita rakyat. Seluruh cerita selesai disantap dalam satu hari. Di perpustakaan sekolah pun sama, buku yang saya cari sebagian besar berisi cerita—di samping pengetahuan unik dan buku peribahasa.

Kebiasaan itu terus berlanjut di bangku SMP. Bedanya, saya juga perlahan menggemari puisi. Tapi, aksesnya belum banyak. Lagi-lagi saya hanya mengandalkan buku paket Bahasa Indonesia. Di antara puisi favorit saya kala itu adalah karangan sang maestro Sapardi Djoko Darmono:


aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan kata yang tak sempat diucapkan,
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Bersamaan dengan hal tersebut, saya pun perlahan menulis puisi. Jangan berekspektasi tinggi, ya. Puisi-puisi saya mungkin lebih cocok disebut kegalauan bocah SMP. Lucu juga kalau ingat masa-masa itu. But, the first of everything is shit, right?

Yang menarik, pernah ada seorang teman perempuan sekelas mengajak saya berbalas puisi. Dia menulis puisi, kirimkan kepada saya, kemudian saya balas dengan puisi lain. Begitu seterusnya selama beberapa bulan. Seingat dan setahu saya, tidak ada satu pun orang lain yang mengetahui kegiatan kami ini. Jumlah puisinya lumayan banyak, mungkin cukup untuk dibukukan. Sayang, ketika saya pindah rumah, kumpulan puisi itu hilang. Lebih tepatnya saya lupa, siapa di antara kami yang menyimpannya. Selepas lulus SMP, kami tidak menjalin kontak lagi.

Selama SMK, saya mulai jarang menulis puisi. Entahlah, mungkin karena kesibukan akademis dan organisasi. Tetapi, hasrat untuk menulis itu tetap menggebu, baik puisi atau artikel biasa. Selaras dengan semakin banyaknya buku yang saya lahap dari perpustakaan masjid sekolah.

“Seru kali ya, menjadi penulis yang sanggup mengubah pikiran banyak orang,” sebait angan melintas.


Blog dan Saya

Pertama kali bikin blog sekitar tahun 2013. Di tengah kesibukan PKL (Praktik Kerja Lapangan) selama satu tahun penuh. Maklum, saya bersekolah di SMK khusus program empat tahun. Saat itu modal nekat saja, tanpa mengetahui sama sekali tentang dunia blog. Saya sekadar butuh media untuk menyalurkan hobi menulis, sembari perlahan meniti jalan kepenulisan. Nama blognya setiawanhary.blogspot.com. Seluruh pengaturan, desain, dan detail kecil lainnya, dikerjakan sendiri. Hingga setahun kemudian saya baru sadar ternyata wordpress lebih user friendly, haha.

Banyak hal saya ceburkan ke dalam blog. Sebagian besar berupa tulisan opini dan essai. Saya bukan tipe orang yang mudah curhat atau menulis cerita keseharian. Well, sebenarnya blog tersebut mirip gado-gado sih: isinya campur. Sinopsis buku yang menjadi dagangan juga dimasukkan. Nggak ada bagusnya deh blog yang itu.

Ini sih salah satu kebiasaan buruk saya. Modal nekat, belajarnya paralel. Nanti setelah belajar, inginnya memulai semuanya dari nol. Capek merapikan yang terlanjut ribet, mending bikin baru. Jangan diikuti ya yang begini.

Dua tahun berikutnya, saya mulai beralih menulis di blog.setiabuku.com. Blog yang berfungsi menjaga rating domain toko online saya di google. Walaupun akhirnya situs tersebut hanya berisi artikel, tokonya sendiri nggak aktif, hehe.

Oktober 2018 lalu, kedua blog di atas resmi dinon-aktifkan. Sebagai gantinya, saya meretas blog pribadi—kali ini lebih rapi—dengan nama coretcoretawan.blogspot.com. Tulisan-tulisan lama yang masih layak, saya tuang kembali. Di blog tersebut, saya juga membiasakan menulis cerita pengalaman keseharian. Mungkin bahasa pemasarannya, saya ingin membangun branding diri melalui blog baru itu.

Saya bersama Blog

Dibandingkan bangga, barangkali saya lebih suka menyebut bersyukur karena telah menjadi narablog. Saya latihan menulis di situ. Saya mencurahkan isi benak di situ. Saya juga menjemput rezeki salah satunya dari situ. Rezeki yang dimaksud bisa dalam arti banyak hal. Akal yang tetap waras dan hati yang tenang karena aktivitas menulis adalah bagian dari rezeki. Gajian juga pastinya rezeki.

Karena dikenal sering menulis, seorang kakak kelas hingga kini mempercayakan job nulis freelance kalau ia sedang overload. Hasilnya lumayan untuk membiayai kuliah. Di samping itu, secara tidak langsung saya juga memperoleh banyak ilmu mengenai dunia digital wiriting. Gratis..tis..tis..

Dari blog, saya pun berhasil menyabet sejumlah penghargaan. Di antaranya, Juara 3 Lomba Resensi Novel “Pulang” dari Republika (2016), Resensi Pilihan 1 Lomba Resensi Novel “Maneken” dari Republika (2016), dan Juara 1 Lomba Resensi Novel “Pergi” dari Republika (2018).

fb.com/bukurepublika
fb.com/bukurepublika

Sejak pertama kali jadi blogger hingga sekarang, banyak kejutan saya peroleh. Begitu pula kesempatan berkecimpung di dunia digital writing. Nulis buku? Ingin sih, tapi sekadar aktualisasi diri saja, bukan sebagai mata pencaharian. Belum ada target ke sana juga sepertinya. Tahun 2019 ini, harapan tertinggi saya semoga tetap bisa menginspirasi—sebagaimana tujuan awal saya menulis. Istiqamah menabur kebajikan, di saat sebagian orang dengan berani dan lantang memasarkan keburukan melalui jemari mereka.

Banyak prestasi yang saya ingin kejar pula. Dalam hal ini, saya iri betul pada Pak Nodi yang dalam dua tahun jadi blogger telah menjuari puluhan penghargaan. Boleh iri kan, ya? Hehe. Lah, saya kurang lebih lima tahun ngeblog, produktivitasnya minim banget. Ini persoalan besar, mudah-mudahan bisa diperbaiki di tahun ini. Mohon doa dan dukungannya.


Share:

Menjemput Rezeki di Awal Tahun 2019



Well, mungkin ini curhatan pertama yang aku tulis di blog. Alias tulisan yang lebih santai dibandingkan tema-tema berat yang biasanya kusajikan. Alhamdulillah awal tahun 2019 ini banyak hal terjadi. Satu per satu pintu rezeki seolah Allah buka. Nilainya sih nggak sampai 80 juta. But, I think it's worth for my future. I hope.

Dimulai dari awal Desember, tepatnya ketika hunting buku di event Out of the Boox-nya Mizan di Lebak Bulus. Bi idznillah, ketemu buku My Hobby My Business: Kafe Buku karangan Gunawan Ardiyanto. Isinya sih nampak masih "kulit", tapi sepertinya cukup bagi aku untuk mengenal dunia kafe. Saat itu, pikiranku juga tengah terbang dari satu pohon ide ke pohon ide lainnya. Sudah hampir 5 tahun berbisnis buku, kok nggak ada perubahan, ya? Apa yang mesti aku lakukan atau bikin di tahun besok?

Kafe bertema buku jawabannya.

Sebenarnya, ini baru lintasan pikiran, sampai beberapa hari kemudian aku baca status Whatsapp seorang teman. Winda namanya, dia bilang juga mau bikin kafe buku. Ah, ini kesempatan, pikirku. Doi anak FLP Jakarta, lebih paham dunia menulis dan perbukuan. Mulailah kami mengobrol sejenak, sedikit berseloroh mengajak kolaborasi. Done! Tapi belum ada tindak lanjut.

Tak lama, seorang teman lain membuat status Whatsapp, "#2019BikinKafe". Doi yang biasa aku panggil Bang Rohmat jelas lebih pandai soal manajemen. Sebelum aku japri ajak kolaborasi, ternyata dia juga sudah menghubungi Winda. Yeah, kita bertiga juga saling kenal, sih.

Jadilah bikin kopdar pertama di Upnormal Rawamangun. Saling diskusi menawarkan konsep dan membeberkan motivasi mengapa memilih kafe buku. Dari meet up itu, kami sepakat bertemu lagi akhir Januari nanti. Dalam waktu sebulan, ada beberapa pekerjaan rumah yang mesti dituntaskan. Salah satunya survei ke kafe buku yang ada di Jakarta. Bismillah..

Di waktu yang hampir berbarengan, pengajian pekanan yang biasa aku ikuti juga ketiban proyek besar. Proyek ini sebenarnya program salah satu organisasi yang aku pegang. Karena nggak ada yang mengurus, awalnya aku pengin jorokin Rizki, teman dekat yang juga berprofesi sebagai pengajar Al-Qur'an. Doi mengiyakan dengan syarat kelompok pengajian jadi rekan setimnya. Oke, deal!


Dan terbentuklah RUMAH QUR'AN PELAJAR (RQP).

Prosesnya sangat cepat, kalau nggak mau disebut ngebut. Dalam beberapa hari, tutor kami memandu raker, menyiapkan segala printilan, dan menyusun program. Termasuk bersiap mengadakan acara Pelatihan Guru Qur'an. Target peserta 50 orang, dikerjakan kurang dari dua pekan.

Dari perjalanan ini, yang menarik bagi aku, ketika tiba-tiba jumlah peserta membludak hingga dua kali lipat. Ya siapa sih yang nggak mau ikut pelatihan micro teaching, diisi Ust. Efendi Anwar yang mengasuh Lembaga Tahfizh Utsmani, dapat makan siang, diberi sertifikat, serta hanya dibebankan infak 50 ribu rupiah. Kewalahan? Pasti. Alhamdulillah semuanya masih terkontrol. Lucunya lagi, sampai H-1 kursi untuk acara ternyata belum disiapkan. Panik sih sebentar, namun terselesaikan juga perlahan.

Memang ada sejumlah kendala teknis ketika acara. Biasa. Di luar itu, pendirian RQP terasa lancar, cepat, mulus, hampir tak ada hambatan. Kata orang, segala sesuatu seperti begitu siklusnya. Mula-mula tampak untung demi menggemberikan pemula dan memberinya motivasi lebih. Di pertengahan, mendadak semua hal tak sesuai rencana untuk menguji kesungguhan pelaku. Entahlah, aku lebih suka menyebut ini: "Berkah Al-Qur'an".

Kemudian, di pertengahan Januari ini, milestone baru datang. Kali ini dari seorang alumni senior. Saking seniornya, beliau sudah masuk STM, sedangkan saya masih kelas 1 SD. Saya memanggilnya Mba Azizah.

Dari senior lainnya, Mba Azizah mendapatkan kontak aku untuk diminta menjadi timnya mengurus sebuah lembaga filantropi. Digaji profesional untuk mengisi konten fundraising. Namanya Happy Qur'an, program rintisan baru. Kami bertiga, termasuk bos beliau yang bernama Pak Erwin, sepakat bertemu besoknya. Ba'da zuhur di Kokas.

Pada kesempatan itu, Pak Erwin menjelaskan apa dan ke mana arah Happy Qur'an ini. Sepanjang pembicaraan, bagi aku sebetulnya program ini masih belum jelas. Wajar sih, karena kami memang harus bertemu lagi dengan si empunya ide. Ibu Fida, emaknya Zaskia Adya Mecca. Wow banget!


Selang tiga hari kemudian, kami berempat meeting di Meccanism Kemang. Saya juga mengajak seorang teman dekat, Bang Imron, untuk menjadi bagian dari tim. Saya mengurus konten, doi bagian desain.

Aaaarrgh, belum genap 20 hari di tahun 2019, banyak banget yang Allah berikan. Satu per satu proyek berdatangan. Milestone yang siap mengantarkan ke puncak tertentu. Mengulas semuanya dalam blog ini mungkin adalah bagian dari suka cita. Aku tak pandai mengungkapkannya kepada orang lain, hanya tulisan yang kuanggap media terbaik. Walau sebetulnya aku juga bingung mendeskripsikan rasa syukur ini.

Penasaran, kejutan-kejutan apa lagi yang mau Allah kasih. Bukan geer, hanya optimis. Well, bertambah satu proyek berarti tambah lagi satu amanah baru yang mesti dipertanggungjawabkan. Mudah-mudahan Allah kuatkan juga pundakku dan semoga bisa melalui tahun ini dengan banyak karya. Kali aja juga bisa nikah di tahun 2019, #eh.
Share:

Sejarah Perayaan Maulid Nabi



Peringatan atau perayaan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam telah lama menjadi perdebatan sengit di dalam tubuh umat Islam, khususnya di Indonesia. Kontroversi mengenai permasalahan tersebut, salah satunya, dilatarbelakangi oleh faktor sejarah. Sebagian orang beranggapan, peringatan Maulid Nabi merupakan bagian dari syiar ajaran-ajaran Syiah. Sedangkan golongan lain menyangkal bahwa perayaan ini diinisasi oleh Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi, panglima bermazhab Asy'ari yang berhasil merangkul Al-Aqsa ke dalam pangkuan umat Islam untuk kedua kalinya.

Manakah sejarah perayaan Maulid Nabi yang valid?

Mula-mula kita ulas dahulu 3 teori berbeda mengenai sejarah perayaan ini.

Pertama, perayaan Maulid Nabi diyakini dimulai pada masa Dinasti Ubaid (Fathimiyah) di Mesir yang berafiliasi dengan Syiah Rafidhah. Tepatnya di era kepemimpinan Al-Mu’idz li Dinillah yang berkuasa pada tahun 341-365 H. Bukan hanya Maulid Nabi, mereka juga mengadakan perayaan tahun baru, perayaan Hari ‘Asyura, perayaan Maulid Ali bin Abi Thalib, perayaan Maulid Hasan, perayaan Maulid Husain, dan perayaan Maulid Fathimah.[1]

Perayaan yang mereka gelar bermaksud untuk merebut hati masyarakat Sunni atau Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Kedua, Maulid Nabi dirayakan secara besar-besaran di kalangan Ahlus Sunnah pertama kali oleh Sultan Abu Said Muzhaffar Kukbari, gubernur Irbil di wilayah Irak. Beliau mengundang para ulama, ahli tasawuf, ahli ilmu, dan seluruh rakyatnya. Beliau menyediakan berbagai hidangan, memberikan hadiah, bersedekah kepada fakir-miskin, dan sebagainya.

Imam Jalaluddin As-Suyuthi berkata, “Orang yang pertama kali merintis peringatan Maulid ini adalah penguasa Irbil, Malik Al-Muzhaffar Abu Sa’id Kukbari bin Zainuddin bin Baktatin. Salah seorang raja yang mulia, agung, dan dermawan.”

Ketiga, perayaan Maulid Nabi pertama kali diadakan oleh Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi. Beliau mengadakan perayaan Maulid untuk meningkatkan semangat jihad kaum muslimin dalam rangka menghadapi Perang Salib melawan kaum Salibis dari Eropa dan merebut Yerusalem dari tangan Kerajaan Salibis.[2]

Kompromi Sejarah

Para pendukung perayaan Maulid Nabi biasanya beralasan bahwa mereka mengikuti apa yang dirintis oleh Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi. Dengan demikian tidak ada alasan untuk menyebut perayaan Maulid Nabi sebagai perbuatan bid’ah. Kalaupun bid’ah, maka hal tersebut termasuk bid’ah hasanah. Sebab Sultan Shalahuddin mengadakannya untuk memperkuat dan menyatukan kaum muslimin. Sedangkan para penentang Maulid Nabi berdalih bahwa Maulid Nabi merupakan budaya Syiah Rafidhah yang justru harus ditinggalkan.

Sebetulnya ketiga teori sejarah di atas dapat dikompromikan tanpa harus dipertentangkan satu sama lain. Dalam buku biografi Shalahuddin Al-Ayyubi, Ali Muhammad Ash-Shalabi memaparkan sejumlah fakta menarik.[3]

Ketika hendak menaklukkan Mesir yang dikuasai Dinasti Ubaid, Shalahuddin tidak lantas menggunakan cara-cara fisik. Alasannya, pengaruh Syiah Rafidhah telah mengakar kuat di Mesir selama bertahun-tahun dan tidak mudah untuk mencabutnya. Untuk itu, Shalahuddin mengambil langkah-langkah kultural dengan menghapus budaya Syiah Rafidhah satu per satu. Tujuannya agar tidak terlalu mencolok dan perlahan menarik simpati rakyat Mesir. Dengan demikian, Shalahuddin tetap mengadakan Maulid Nabi sebagai salah satu metodenya sambil perlahan menghapus hari raya lain, melepas pengaruh Syiah dari lembaga-lembaga pendidikan termasuk Al-Azhar, hingga mengganti khutbah Jumat yang menyebut Khalifah Al-Adhid (Syiah) dengan nama Khalifah Abbassiyah saat itu.

Praktik Shalahuddin ini ternyata menarik perhatian Malik Muzhaffar Kukbari di Irbil. Sehingga beliau pun mengadakan perayaan Maulid Nabi pula. Apalagi Malik Muzhaffar merupakan sejawat Shalahuddin dalam Perang Salib. Tidak heran hubungan antara keduanya pun cukup erat.

Allahu a'lam.



[1] Ibnu Saini bin Muhammad bin Musa, Benarkah Shalahuddin Al-Ayubi Merayakan Maulid Nabi?, (Jakarta: Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan, 2014), hal. 21-31.
[2] AM. Waskito, Pro dan Kontra Maulid Nabi, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2014), hal. 23-24.
[3] Ali Muhammad Ash-Shalabi, Shalahuddin Al-Ayyubi, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2013), hal. 253-255.
image: easyparcel.com
Share:

Resensi The Dead Returns: Nyawamu adalah Hasil Pengorbanan Banyak Orang




“..Diabaikan secara tak sadar dan tanpa alasan rasanya lebih menyakitkan daripada diabaikan karena di-bully.” (hal. 98)

Pernahkah kita khawatir, jika nanti mati, apa tanggapan orang-orang di sekitar kita? Menangis sedih, merasa biasa saja, atau justru tertawa gembira? Rasa penasaran yang kuat bercampur dengan kengerian untuk menyaksikannya.

Namun, sepertinya Koyama Nobuo sudah siap menerima semua kenyataan di hadapannya. Apa yang perlu ia harapkan pada teman-teman sekelasnya di SMA Higashi? Koyama hanyalah seorang otaku (fanatik) kereta api di kelasnya. Tidak punya kelebihan, tidak menonjol, dan pastinya tidak digemari murid-murid perempuan. Bersama sahabatnya, Yoshio, ia bertahan di tengah orang-orang yang menganggap mereka pemilik masa depan suram. Keduanya tidak di-bully, tapi tidak diperhatikan juga.

Betul saja. Sekembalinya ia ke kelas, bahkan bunga putih untuk mengenangnya pun tergeletak layu. Tidak ada yang mengganti airnya.

Koyama harus sabar. Bukan itu tujuan ia kembali ke sana. Kini tubuhnya adalah milik Takahashi Shinji, murid pindahan berwajah cerah, tampan blasteran, dan lebih tinggi darinya. Seseorang yang berusaha menyelamatkannya saat terempas akibat didorong oleh pelaku misterius di Tebing Miura Kaishoku pada malam setelah upacara pembukaan semester baru.

Saat Koyama siuman dari koma panjang, ia telah bertukar tubuh dengan Takahashi. Kesempatan ini tidak boleh dibuang percuma. Koyama punya kehidupan kedua yang harus dimanfaatkan guna mencari si pelaku. Tersangka utama: 35 orang teman sekelasnya.

***

Tidak butuh waktu lama untuk memutuskan membaca The Dead Returns seusai logika saya diaduk-aduk oleh Girls in the Dark. Akiyoshi Rikako kembali menyajikan cerita misteri yang lincah dan mengajak pembaca berspekulasi.

Mula-mula, kita dijebak untuk mencurigai Sasaki dan Arai. Kemudian muncul tokoh Jozaki. Maruyama yang berkepribadian sama dengan Koyama juga tak boleh diabaikan. Perlahan, kita pun seakan dipaksa untuk menebak Yoshio sebagai pelakunya. Bahkan ibu Koyama, Sakamoto-sensei, dan Takahashi Shinji sendiri tidak bisa lepas dari praduga.

Saya sejenak berpikir, jangan-jangan ujung novel ini mirip Murder on the Orient Express-nya Agatha Christie. Everyone is suspect!
Sayangnya, lagi-lagi plot twist. Sulit benar-benar menemukan jawabannya kalau belum sampai halaman terakhir.

Rasanya saya juga perlu berterima kasih pada Penerbit Haru yang berhasil menerjemahkan novel ini dengan baik. Dialog maupun narasinya mengalir sebagaimana novel remaja pada umumnya. Gambaran mengenai kehidupan sekolah di Jepang juga cukup terlukiskan secara apik. Kegiatan klub, festival budaya, sungguh masa muda yang penuh energi. Sayangnya, kasus bullying tampak tidak pernah selesai.

Budaya modernnya yang membanjiri dunia hari ini memoles sisi kelam negeri sakura tersebut. Kita kerap terpukau pada kemajuan teknologi dan masyarakat Jepang yang terkenal disiplin. Faktanya, angka bunuh diri di Jepang termasuk yang tertinggi dari seluruh negara. Kementrian Kesehatan setempat, pada tahun 2016 lalu, mencatat angka kematian akibat bunuh diri mencapai hampir 22 ribu orang (Kompas.com).

Adapun di Indonesia, jumlahnya cenderung menurun. Dari 30 ribu kasus pada 2005, hingga hanya 840 kasus di tahun 2013. Terdapat empat penyebab utama: putus cinta, masalah ekonomi, keluarga yang tidak harmonis, dan masalah sekolah!



Koyama yang berupaya mencari pembunuhnya, ternyata juga disadarkan pemandangan menarik. Kadang ia menyaksikan kepalsuan teman-temannya, kadang justru ia menemukan kebaikan di balik anggapan kelirunya. Begitu pula Yoshio maupun Maruyama. Ketiganya menganggap teman-teman yang lain tidak mengerti mereka, tanpa disadari mereka pun punya pandangan negatif terhadap teman sekelasnya. Semua masalah tersebut ternyata mampu diselesaikan melalui hal sederhana: komunikasi. Saling terbuka dan menyampaikan hal-hal yang disukai maupun tidak disukainya.

Nyawa kita terlalu mahal untuk dikorbankan begitu saja. Padahal bisa jadi ada andil pengorbanan banyak orang agar kita tetap hidup.

“Kau bilang keberadaanmu muncul karena pengorbanan orang lain. Tapi, bukankah semua orang memang seperti itu? Namun, sedikit sekali orang yang menyadari fakta penting itu. Akan tetapi, Takahashi-kun, kau bisa menyadari hal yang mulia itu. Bukankah itu bagus sekali? Dengan itu saja, kau sudah cukup berarti untuk dilahirkan. Karean itu, percaya dirilah. Aku ingin kau hidup dengan bangga. Hmm... menurutku, Takahashi-kun pantas untuk hidup.” (hal. 156)


Judul : The Dead Returns
Penulis : Akiyoshi Rikako
Penerbit : Penerbit Haru
Tebal : 252 halaman
Cetakan : VIII, Oktober 2017
Nomor ISBN : 978-602-7742-57-4

Share:

Resensi Girls in the Dark: Siapa Ingin Membunuh Siapa



Kau pernah berpikir ingin membunuh seseorang?

Awal kali saya berjumpa dengan novel ini kurang lebih setahun lalu, ketika cuci mata di Gramedia Matraman. Dan pertemuan tersebut begitu menggoda. Mulai dari tampilan sampul, ukuran buku yang pas di genggaman tangan, hingga narasi sinopsisnya. Sayang, dompet saat itu mirip peci: tipis! Tahu sendiri, kan, kalau di Gramedia itu nggak ada diskon. #eh

Syukur ada kesempatan di International Indonesia Book Fair (IIBF) tahun ini. Waktunya hunting buku diskonan berbekal uang hadiah lomba Resensi Pergi Tere Liye (#sombong). Seperti biasa, booth Penerbit Haru terbilang unik. Di booth yang juga menjual sejumlah aksesoris itu, gelombang kalap sudah tidak bisa dibendung. Tiga buku segera dibungkus mbak-mbak kasir: Girls in the Dark, The Dead Returns, dan Holy Mother dari penulis yang sama.

Beberapa minggu setelahnya, tangan seolah tak sabar membuka Girls in the Dark. Zalim sih sebenarnya. Banyak buku yang dibeli berbulan-bulan lalu, belum dibaca sampai sekarang. Sedangkan ini ada anak kemarin sore datang ke rumah, langsung bertahta di atas singgasana. Untung mereka nggak bikin demo.



***

Cerita bermula dari kegemparan di SMA Katolik Putri Santa Maria atas kematian Shiraishi Itsumi. Anak pengelola sekolah tersebut bersimbah darah sambil memegang setangkai bunga lily, terlentang di bagian teras seolah jatuh dari lantai atas. Apakah gadis cantik itu dibunuh? Bunuh diri? Tidak ada yang tahu.

Seminggu kemudian, enam gadis dari Klub Sastra yang dulu diketuai oleh Itsumi mengadakan pertemuan. Sumikawa Sayuri, selaku wakil ketua, memimpin kegiatan yami-nabe di salon sastra mereka yang berkelas. Seluruh peserta akan memasukkan bahan-bahan aneh yang mereka bawa ke dalam panci dan semua orang harus memakannya di tengah kegelapan. Bahannya bisa berupa benda yang bisa dimakan maupun tidak, asal tetap higienis. Selama kegiatan berlangsung, masing-masing peserta wajib menulis cerita pendek sekaligus membacakan naskahnya.

Inilah gairah sesungguhnya yami-nabe. Terlebih, Sayuri telah menetapkan tema khusus. “Iya. Tema kali ini adalah kematian Ketua Klub sebelumnya, Shiraishi Itsumi.” (hal. 15)

Siapa sangka, cerita pendek yang mereka buat ternyata berisi analisis siapa yang menjadi pembunuh Itsumi.

Naskah pertama: Tempat Berada oleh Nitani Mirei. Murid kelas 1-A itu mengisahkan kehidupannya yang di bawah kecukupan, orang tua yang bercerai, serta kebanggaannya setelah memperoleh beasiswa. Ia juga mendeskripsikan ketakjubkannya pada kebaikan dan keanggunan Itsumi hingga undangan untuk bergabung dengan Klub Sastra, kelompok elit yang tidak semua orang dapat memasukinya. Di akhir cerita, Mirei melempar tuduhan pada Koga Sonoko sebagai pembunuh Itsumi. Bunga lily mengandung pesan, “Yang membunuhku adalah perempuan dengan harum bunga lily.”

Naskah kedua: Macaronage oleh Kominami Akane. Akane merupakan anak pemilik sebuah restoran Jepang ternama. Ayahnya sendiri yang menjadi koki. Hatinya merasa sakit setelah tahu restoran akan diwariskan kepada kakaknya. Demi terus memupuk semangat, ia pun mulai menekuni masakan Barat. Dapur salon sastra menjadi dunia kecilnya. Ibarat istana yang dilengkapi bahan masakan kelas satu serta peralatan masak terlengkap dan terbaik di dunia. Walau tersirat, murid kelas 2-B itu menganggap Mirei bertanggung jawab atas kematian Ketua Klub mereka.

Naskah ketiga: Balkan di Musim Semi oleh Diana Detcheva. Seorang gadis yang berasal dari sebuah desa kecil di Bulgaria. Ia dan kakaknya, Ema, menjadi pemandu Itsumi untuk mengelilingi desa sekaligus mengunjungi sejumlah objek wisata bersejarah dalam program semester pendek. Diana kemudian terpilih sebagai peserta murid internasional karena Ema tiba-tiba mengalami kecelakaan. Sepanjang kehidupannya di sekolah, Diana menemukan fakta bahwa tangan Takaoka Shiyo telah berlumur darah Itsumi.

Naskah keempat: Perjamuan Lamia oleh Koga Sonoko. Anak jurusan IPA, sekelas dengan Itsumi, serta sama-sama bermimpi menjadi dokter. Selain sebagai anggota Klub Sastra, tahun ini ia juga menjabat sebagai ketua perayaan Paskah dan Pantekosta. Super sibuk. Tetapi berbagai kegiatan tersebut justru mengantarkannya membuat kesimpulan bahwa pembunuh sebenarnya ialah Diana.

“...Darah? Lamia. Tukang sihir. Setan pengisap darah. Hamba iblis...” (hal. 186)

Naskah kelima: Pengibirian Raja Langit oleh Takaoka Shiyo. Bisa dibilang, murid kelas 2-C ini adalah anggota pertama yang direkrut Itsumi. Namanya tersohor sejak merilis novel remaja ringan, Kimi-kage Sou. Baginya, Itsumi bak kakak idaman. Sebab itu, dirinya menyesal setelah menyaksikan Akane mendorong Itsumi di teras.

Cerita pendek siapa yang dapat dipercaya?



***

Secara garis besar, cerpen yang disusun setiap anggota mempunyai pola yang sama. Mendeskripsikan kehidupan mereka, luapan emosi kegembiraan karena bergabung dengan Klub Sastra, kekaguman pada kesempurnaan Itsumi, sampai menyusun teori pembunuhan.

Di sinilah letak kejeniusan Akiyoshi Rikako yang membuat pembaca menerka-nerka hingga akhir bab. Terutama ketika pembacaan naskah keenam oleh Sumikawa Sayuri berjudul Bisikan dari Kubur, cerpen yang ditulis oleh Itsumi sendiri. Loh?

“Ah, sial. Ternyata...”

Saya tidak tahu banyak tentang sastra Jepang, tapi ada ketertarikan untuk membacanya. Novel ini adalah yang kedua, setelah sebelumnya saya menghabiskan Saga no Gabai Bachan (Nenek Hebat dari Saga). Di lain waktu, mungkin saya ingin menyicipi karya-karya Haruki Murakami. Katanya sih fantasinya di luar nalar.

Sebagai penggemar serial Sherlock Holmes dan detektif-detektif Agatha Christie, Girls in the Dark berhasil menyajikan twist sempurna. Alur yang sulit ditebak, lengkap dengan petunjuk-petunjuk yang membingungkan.

Pembaca pun dibuat terhenyak karena ternyata setiap anggota Klub Sastra memiliki rahasia kelam. Topeng yang menutupi kebusukan hati. Misterinya berjalan lugas, tanpa bumbu thriller atau horor khas negeri sakura. Memang ada beberapa bagian yang salah ketik serta terlalu banyak penggunaan kata ganti “aku”. Sedikit mengganggu, tapi jadi tidak terasa karena gaya bahasa penerjemahannya yang kaya diksi dan membuat cerita mengalir dalam tempo cepat. Perpindahan sudut pandang pada setiap cerpen dibangun sedemikian rupa sehingga pembaca merasakan perbedaan karakter yang cukup dalam.

Novel ini tepat bagi dua orang. Pertama, para pecinta teka-teki. Kedua, mereka yang ingin belajar menguatkan karakter pada tokoh novel atau cerpen.

“Siapa yang menjadi pemimpin, siapa yang memegang tongkat kekuasaan, siapa yang memilik wibawa... gadis-gadis itu mengendusnya, memilah-milahnya. Dan kalau ada kesempatan, mereka mengincar untuk merebutnya. Begitulah yang saya lihat tentang siswi SMA di Jepang.” (hal. 129)

“Pegang rahasianya, rebut tempatnya berada, dan sudutkan. Menggenggam rahasia seseorang sama dengan menggenggam jiwanya. Tidak ada kepuasan yang melebihi kepuasan itu.” (hal. 227)

Judul : Girls in the Dark
Penulis : Akiyoshi Rikako
Penerbit : Penerbit Haru
Tebal : 289 halaman
Cetakan : XII, Januari 2018
Nomor ISBN : 978-6027742-31-4

Share: